<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343</id><updated>2011-12-31T06:48:53.381+07:00</updated><title type='text'>OISCA JEPARA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-1904693586668722205</id><published>2011-07-25T07:05:00.002+07:00</published><updated>2011-11-07T07:25:48.887+07:00</updated><title type='text'>WORKSHOP PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE SILVOFISHERY, PETANI TAMBAK CLERING KE PEMALANG</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zR4_tTF0f3s/TrckuQL_1FI/AAAAAAAAAKk/M75YXEuIP6E/s1600/P1070752A.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-zR4_tTF0f3s/TrckuQL_1FI/AAAAAAAAAKk/M75YXEuIP6E/s320/P1070752A.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seluruh peserta Workshop dan Pelatihan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Silvofishery berangkat dari Clering pada hari Kamis, 21 Juli 2011 pukul 24:20 WIB. Sesuai Jadwal kegiatan pada hari pertama seluruh peserta mengikuti orientasi lapangan yang dipandu oleh Bpk. Tolani menuju lokasi tambak silvofishery, tambak budidaya kepiting soka, lokasi pembibitan mangrove, lokasi budidaya penggemukan kepiting system keramba, tambak bandeng ramah lingkungan dan menuju trek di kawasan hutan mangrove hasil rehabilitasi dari OISCA Mangrove Program serta melihat lokasi penanaman tahun 2010 setelah itu dilanjutkan menuju lokasi pembibitan cemara laut yang dilaksanakan oleh kelompok “Alam manunggal” pengelola hutan pantai cemara laut, desa Nyamplung sari kecamatan Petarukan.&lt;br /&gt;Pada hari kedua, kegiatan lebih difokuskan kepada penyampaian materi pelatihan yang bertempat di Sekretariat kelompok “Pelita bahari”. Dari semua materi yang disampaikan terlihat antusiasme peserta pelatihan dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan serta respon yang baik dari materi yang diberikan oleh narasumber sehingga jadwal harus mengalami penyesuaian Karena masalah waktu. Pada malam harinya semua peserta dan coordinator dari Jepara berkumpul untuk melakukan evaluasi dan penyusunan rencana serta kesepakatan mengenai implementasi dari pelatihan yang telah diterima selama dua hari ini.&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, yang semula dijadwalkan acara melanjutkan penyampaian materi dan dilanjutkan praktek lapangan harus dirubah menjadi total penyampaian materi oleh narasumber di lokasi yang sama pada hari kedua, hal ini dikarenakan penyampaian materi yang sesuai sehingga membuat peserta semakin tertarik dan merespon semua materi yang disampaikan yang berakibat pada jadwal kegiatan yang harus disesuaikan lagi, sehingga kegiatan praktek lapangan direncanakan akan dilaksanakan pada hari keempat.&lt;br /&gt;Pada hari keempat, sesuai dengan jadwal yang telah direvisi kegiatan dilaksanakan total untuk kegiatan lapangan mulai dari praktek pembibitan mangrove di polybag, praktek pembuatan rakit untuk saranan budidaya kepiting soka, praktek budidaya kepiting soka, praktek pembuatan keramba untuk penggemukan kepiting, pengenalan jenis-jenis tanaman mangrove sampai pengumpulan benih mangrove yang jenisnya masih belum ada dilokasi Jepara untuk ditanam kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menanam propagul Rhizophoraceae secara bersama-sama dilokasi penanaman. Pada hari keempat ini pula acara Workshop dan Pelatihan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Silvofishery ditutup dan persa kembali ke Jepara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-1904693586668722205?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/1904693586668722205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/07/workshop-pengelolaan-ekosistem-mangrove.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/1904693586668722205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/1904693586668722205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/07/workshop-pengelolaan-ekosistem-mangrove.html' title='WORKSHOP PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE SILVOFISHERY, PETANI TAMBAK CLERING KE PEMALANG'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zR4_tTF0f3s/TrckuQL_1FI/AAAAAAAAAKk/M75YXEuIP6E/s72-c/P1070752A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6939449857552772915</id><published>2011-07-05T12:15:00.000+07:00</published><updated>2011-07-05T12:15:16.139+07:00</updated><title type='text'>Cukup Jalan Kaki Temui SBY, Demi pelestarian lingkungan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1oT0_4y2GHA/ThKdarcEHmI/AAAAAAAAAIY/X79E9gB8np0/s1600/Cukup-OISCA.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="225" width="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-1oT0_4y2GHA/ThKdarcEHmI/AAAAAAAAAIY/X79E9gB8np0/s320/Cukup-OISCA.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;INDRAMAYU- Seorang aktivis lingkungan hidup dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi) melakukan aksi jalan kaki dari Indramayu menuju Istana Negara untuk menemui presiden SBY. Aksi ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang tak mampu menyelesaikan persoalan pemulihan lingkungan di sepanjang pesisir pantai Indramayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Rudiyanto warga Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (6/6/2011) pagi memulai aksi jalan kakinya dari Indramayu menuju Istana Negara, di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup meminta Presiden SBY meminta agar pemerintah secara tegas dapat memulihkan pantai Indramayu yang telah tercemar puluhan ton minyak mentah dari bocorya pipa single boil moring (SBM) milik Pertamina sejak 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksinya ini, Cukup didampingi bersama tiga rekannya dari LSM KOMPI. Cukup memulai aksinya dari pendopo Indramayu. Dia langsung berjalan kaki menuju kantor Dinas Lingkungan Hidup serta DPRD Indramayu guna meminta dukungan moral dari kedua lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Cukup langsung berjalan kaki menuju Jakarta. Diperkirakan jarak yang akan ditempuh Cukup sekira 280km. Perjalanan ini akan memakan waktu empat hari sampai di Istana Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aksi ini merupakan bentuk kekecewaan Cukup yang telah menerima Kalpataru dari pemerintah pada 2008. “Kalpataru hanya simbolis semata, namun pada kenyataannya pemerintah selama ini masih kurang memperhatikan lingkungan hidup di Indramayu,” kata Cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup juga berharap dalam aksinya ini dia bisa bertemupresiden guna menyampaikan Aspirasinya. Namun jika dalam waktu tertentu pemerintah maupun pelaku industri tidak melakukan pemulihan. Cukup akan kembali melakukan aksi jalan guna mengembalikan penghargaan Kalpataru kepada Kementrian Lingkungan Hidup RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada hal itu, ketua Kompi Indramayu Juhadi Muhammad mengatakan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat yang merasa tidak puas terhadap pemerintah pusat maupun pihak industri yang telah melakukan pencemaran. “Hingga sampai saat ini pemerintah tidak melakukan pemulihan yang berakibat pada menurunnya produksi ikan di Indramayu,” kata Juhadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup Rudiyanto adalah seorang pegawai swasta dan pegawai swasta yang lahir dan tumbuh di lingkungan pesisir dan laut di desa Pabean Ilir, Pasekan, Indramayu, Jawa Barat. Semakin hari ia semakin menyadari bahwa kondisi hutan mangrove di sekitarnya mengalami kerusakan parah akibat penebangaan untuk diambil kayunya dan dijadikan lahan tambak. Semakin lama semakin dirasakan bahwa untuk mencari ikan harus melaut semakin jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang didapat di bangku SMA mengajarkan bahwa ada hubungan kausalitas positif antara keutuhan hutan mangrove dengan biota laut menggerakkan hatinya agar berbuat sesuatu untuk memulihkan kondisi hutan mangrove yang telah rusak.&lt;br /&gt;Dengan penuh ikhlas, Cukup mulai melakukan pembibitan di tahun 1999, dilanjutkan dengan penanaman dan pemeliharaan hingga tumbuh menjadi pohon mangrove yang kuat. Semua itu dilakukan sungguh-sungguh dengan penuh kesabaran selama 4-8 kali perbulan, dan setiap kegiatan dilakukan selama 8 jam. Kerja kerasnya ini kemudian mendapat perhatian dan bantuan dari Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup, Kantor Kehutanan Kabupaten, PT Perhutani, dan lembaga swadaya masyarakat OISCA yang berpusat di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kegiatan Cukup Rudiyanto dimulai dari penanaman mangrove di lahan tambak pribadinya seluas 6 hektar. Pantai dibersihkan dari sampah plastik dan sampah organik lainnya. Untuk menahan gelombang, ditanjapkan ajir-ajir mangrove dari bambu di tanah sedimentasi. Di antara mangrove yang ditanam, dibuat jakses jalan perahu. Selain itu, ia juga memperkenalkan sesuatu yang baru kepada masyarakat, yaitu empang parit atau “silvofishery”. Semua itu dimaksudkan untuk menanggulangi abrasi dan rehabilitasi mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, Cukup Rudiyanto mengajak tetangga dan warga masyarakat lainnya untuk melakukan hal serupa. Penyuluhan dan pembinaan dilakukan secara terus menerus. Ia juga membuat percontohan bahwa lahan kritis ternyata bisa menghasilkan apabila ditanami rosela yang bermanfaat sebagai bahan obat-obatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 8 tahun berlalu, mangrove yang ditanam bersama masyarakat telah tumbuh subur. Jumlahnya tidak kurang dari 1.500.000 pohon. Di sela-sela hutan mangrove ada jalan untuk perahu, sehingga daerah itu kemudian berkembang menjadi obyek wisata alam pesisir dan laboratorium alam. Keberadaan mangrove ini telah memberikan tempat baru bagi tumbuh dan berkembang biaknya plankton, ikan dan udang. Mangrove ini juga telah berfungsi sebagai penahan gelombang dan abrasi pantai dan penyaring sampah yang terbawa ombak, sedangkan tajuknya berfungsi sebagai penahan kecepatan angin dan menghasilkan kesejukan udara. Tanaman roselanya pun telah mendatangkan hasil dengan adanya kontrak dengan perusahaan farmasi yang menjadikannya sebagai bahan baku obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi masyarakat yang terbangun dari manfaat ekonomi yang dirasakan menunjukkan tumbuhnya kehidupan sosial baru dari tidak peduli menjadi peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Secara ekonomis, keberadaan mangrove telah meningkatkan penghasilan dan meminimalkan biaya produksi nelayan dan petambak dibandingkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Cukup Rudiyanto tidak hanya dikenal oleh masyarakat Indramayu saja. Ia sering dikunjungi tamu perorangan dan kelompok masyarakat lain dari pulau Jawa untuk melihat dan belajar. Bahkan Cukup belum bisa memenuhi permintaan salah satu pemerintah kabupaten di Kalimantan Timur untuk mengenalkan dan mengajarkan keahliannya kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecil menanam, dewasa memanen. Siapapun yang menanam, pasti akan memanen hasilnya”. Itulah bekal semangat Cukup Rudiyanto yang ternyata terbukti membawa berkah bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6939449857552772915?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6939449857552772915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/07/cukup-jalan-kaki-temui-sby-demi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6939449857552772915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6939449857552772915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/07/cukup-jalan-kaki-temui-sby-demi.html' title='Cukup Jalan Kaki Temui SBY, Demi pelestarian lingkungan'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1oT0_4y2GHA/ThKdarcEHmI/AAAAAAAAAIY/X79E9gB8np0/s72-c/Cukup-OISCA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-7570652049497299259</id><published>2011-06-20T22:43:00.001+07:00</published><updated>2011-06-20T22:44:35.870+07:00</updated><title type='text'>JEPARA JADI FINALIS INDONESIA GREEN REGION AWARD(IGRA) 2011</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WM06tYlPo0U/Tf9q3W85C2I/AAAAAAAAAIQ/s-ySAe__EGM/s1600/IGRA-ONTHEROAD-300x211.png" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="211" width="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-WM06tYlPo0U/Tf9q3W85C2I/AAAAAAAAAIQ/s-ySAe__EGM/s320/IGRA-ONTHEROAD-300x211.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jepara – Kabupaten Jepara menjadi satu dari 10 kabuoaten/kota di Indonesia yang lolos sebagai finalis  penerima  Indonesia Green Region Award (IGRA) 2011. Pekan ini, Bupati Jepara Hendro Martojo dijadwalkan melakukan presentasi di depan tim juri di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diungkapkan Kepala Bagian Humas Setda Jepara Hadi Priyanto, Senin (13/6) pagi. IGRA adalah penghargaan untuk daerah pengelola lingkungan hidup terbaik di Indonesia yang dilaksanakan Kantor Berita Radio (KBR) 68 H Jakarta dan Majalah Swasembada Jakarta. “Tahun lalu penghargaan IGRA diberikan kepada pemerintah provinsi, dan ini akan diberikan kepada kabupaten/kota,” kata Hadi Priyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan dari 10 kabupaten/kota yang menjadi finalis IGRA 2011, empat daerah berasal dari Pulau Jawa, yakni Kabupaten Jepara, Kota Yogyakarta (DIY), Kota Surabaya (Jawa Timur), dan Kabupaten Kuningan (Jawa Barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam daerah lain dari luar Jawa, yakni Kota  Banda Aceh (NAD), Kota  Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Kabupaten Berau (Kalimantan Timur), Kota Denpasar (Bali), Kabupaten Gorontalo (Gorontalo), dan Kota  Payakumbuh (Sumatera Barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka diseleksi para panelis sejak awal tahun 2011. Dari penilaian awal, terpilih 54 landidat, lalu diseleksi lagi tinggal 10 daerah yang berhak menjadi finalis calon penerima IGRA. Sebelum para finalis melakukan presentasi, tim juri juga telah melakukan verifikasi lapangan,” papar Hadi Priyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi finalis IGRA akan dilakukan di depan tim juri yang merupakan para ahli lingkungan hidup, di antaranya mantan Menteri Lingkungan Hidup RI Emil Salim. Kabupaten Jepara, menurut Hadi, optimistis menatap tahap akhir penilaian IGRA 2011 karena pembangunan lingkungan hidup di Jepara termasuk yang terbaik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara sangat sering menerima penghargaan di bidang lingkungan hidup, antara lain Piala Adipura delapan kali, dan tujuh di antaranya diraih secara beruntun sejak 2005 hingga 2011, penghargaan kabupaten sehat Swasti Saba Padapa 2010, Juara III Kabupaten Peduli Hutan (2010), dan Penghargaan Raksaniyata dari Menteri Lingkungan Hidup RI 2011. Sumber: suaramerdeka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-7570652049497299259?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/7570652049497299259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/06/jepara-jadi-finalis-indonesia-green.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/7570652049497299259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/7570652049497299259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/06/jepara-jadi-finalis-indonesia-green.html' title='JEPARA JADI FINALIS INDONESIA GREEN REGION AWARD(IGRA) 2011'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WM06tYlPo0U/Tf9q3W85C2I/AAAAAAAAAIQ/s-ySAe__EGM/s72-c/IGRA-ONTHEROAD-300x211.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-8755729736387595079</id><published>2011-04-19T14:41:00.000+07:00</published><updated>2011-04-19T14:41:26.252+07:00</updated><title type='text'>RESIKO ABRASI PESISIR TANGGULTLARE DALAM TAHAP BAHAYA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-q3MQMzy7kBs/Ta06ewqqqAI/AAAAAAAAAH0/_fjCLcEo3WM/s1600/tanggultlare.bmp" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="226" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-q3MQMzy7kBs/Ta06ewqqqAI/AAAAAAAAAH0/_fjCLcEo3WM/s320/tanggultlare.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;OISCA.&lt;/b&gt;Rimbunan pohon mangrove yang telah berusia puluhan tahun itu kini dalam kondisi memprihatinkan, sungguh sangat ironis dan miris ketika melihat kondisi kawasan mangrove di Tanggultlare yang telah rusak tanpa sebuah tindakan mitigasi yang tepat serta berkelanjutan, “ lebaran kemarin waktu saya main kesini pohon mangrove masih sampai batas cor(APO) yang disana itu mas, musim ombak tahun ini memang besar sekali dampaknya terhadap tananaman mangrove yang ada disini” ujar Heri warga Tanggultlare yang kami temui di lokasi. &lt;br /&gt;Kondisi tanaman mangrove di Tanggultlare yang didominasi dari spesies Rhyzophoraceae dan Aviceniaceae memang dalam status memprihatinkan karena kerusakannya sudah sangat sedemikian rupa. Ketika kami melihat kawasan ini kami disuguhi pemandangan kelabu mengenai penanganan wilayah pesisir, betapa tidak pohon mangrove yang telah berusia puluhan tahun dengan tinggi mencapai enam meter serta diameter batang yang mencapai 20cm porak poranda dan tumbang digerus gelombang laut, sungguh tidak sebanding dengan perjuangan yang telah dilakukan temen-teman penggiat lingkungan terutama yang konsentrasi terhadap penanganan mangrove, betapa sulitnya melakukan penanaman dan rehabilitasi kawasan mangrove dan butuh waktu yang lama untuk membentuk sebuah kawasan mangrove yang stabil, namun semua hancur dalam waktu yang tidak lama tanpa sebuah tindakan adaptasi dan mitigasi terhadap kondisi ini.&lt;br /&gt;Abrasi di Tanggultlare yang masuk wilayah kecamatan Kedung selama lima tahun terakhir mencapai 50 meter lebih dan terparah terjadi tahun 2010 – 2011 yang mencapai 20 meter, potensi kerusakan lingkungan pantai  yang terjadi diperkirakan telah menghancurkan tanaman mangrove seluas lebih dari 5 hektar yang selama ini menjadi penghalang intrusi air laut dan penahan abrasi. Dengan ketebalan kawasan mangrove yang masih tersisa saat ini yaitu antara 0 – 5 meter menjadi sangat rentan terhadap ancaman abrasi yang akan terjadi  nanti “Kami dari OISCA sangat ingin membantu masyarakat Tanggultlare dalam upaya mencegah dampak abrasi serta intrusi yang lebih parah lagi dengan melakukan penanaman mangrove di sepanjang pantai, dalam hal ini peran serta serta dan kerjasama masyarakat akan sangat diperlukan karena merekalah yang akan menjadi ujung tombak dalam upaya mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah selain itu kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat dan LSM yang konsen terhadap kerusakan lingkungan juga perlu dipererat, jika hal ini tidak ditangani dengan serius dalam jangka waktu kurang dari lima tahun kedepan diperkirakan abrasi akan terjadi hingga mencapai jalan utama yang menghubungkan wilayah Tanggultlare dengan desa lain apalagi kondisi mangrove disana yang menjadi penghalang utama abrasi sudah sangat memprihatinkan kondisinya ” ungkap Bambang H.S, Koordinator OISCA Mangrove Program wilayah Jepara.&lt;br /&gt;Berdasarkan data dari stasiun pasang surut Jepara kenaikan paras muka air laut (sea level rise) telah mencapai 10mm per tahun sehingga perlu di waspadai oleh masyarakat yang berada di wilayah pesisir dan jika digabungkan dengan beberapa parameter yang lain, yaitu perubahan iklim global, abrasi pantai, deformasi vertical, aktivitas manusia, pergerakan lempeng, kemiringan dan jenis pantai maka diperkirakan kenaikan paras muka air laut di Jepara akan lebih dari 10mm per tahun sehingga akan menambah tingkat resiko abrasi dan tingkat genangan serta intrusi air laut di wilayah Jepara.&lt;br /&gt;“Beberapa waktu kemarin dari anggota DPRD Jepara dan pemerintah sudah melakukan kunjungan kesini   dari UNDIP juga sudah melakukan penanaman mangrove namun karena kondisi pantai dan ketinggian ombak serta luasnya area yang perlu di rehabilitasi,  penanaman 1.000 batang mangrove yang di lakukan belum memberikan kontribusi yang berarti. Yang kami harapkan adalah dibangunnya alat pemecah ombak(APO) supaya dapat mereduksi kecepatan ombak sehingga akibat yang ditimbulkan tidak terlalu besar setelah itu baru ditanami mangrove disepanjang pantai agar dapat memperoleh hasil yang maksimal” tutur Zainuri Kepala desa Tanggultlare.&lt;br /&gt;Melihat kondisi kawasan pantai di wilayah Jepara yang sudah sangat membutuhkan penanganan kini saatnya Pemerintah yang bersinergi dengan akademisi, LSM dan seluruh komponen masyarakat untuk mengambil tindakan nyata dalam melaksanakan tindakan adaptasi dan mitigasi yang di implementasikan secara berkelanjutan dengan mengalokasikan sumber dana yang ada, sehingga hasil yang diperoleh dapat optimal. Sutand-OISCA Jepara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-8755729736387595079?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/8755729736387595079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/04/resiko-abrasi-pesisir-tanggultlare.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8755729736387595079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8755729736387595079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/04/resiko-abrasi-pesisir-tanggultlare.html' title='RESIKO ABRASI PESISIR TANGGULTLARE DALAM TAHAP BAHAYA'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-q3MQMzy7kBs/Ta06ewqqqAI/AAAAAAAAAH0/_fjCLcEo3WM/s72-c/tanggultlare.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-3079205559840030351</id><published>2011-03-14T14:47:00.000+07:00</published><updated>2011-03-14T14:47:01.083+07:00</updated><title type='text'>Alumni Oisca Aceh Siapkan Relawan ke Jepang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-mEIC0IwnEKc/TX3H7KTNr2I/AAAAAAAAAHs/LvEh-SfCCOw/s1600/lovegreen_resize2.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="135" width="135" src="http://1.bp.blogspot.com/-mEIC0IwnEKc/TX3H7KTNr2I/AAAAAAAAAHs/LvEh-SfCCOw/s320/lovegreen_resize2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;LHOKSUKON - Pengurus Oisca Aceh menyiapkan lima relawan untuk diberangkatkan ke Jepang, guna membantu masyarakat Jepang yang terkena musibah gempa dan tsunami, 11 Maret 2011 lalu. Kelima relawan itu memiliki keahlian di bidang rekontruksi, sanitasi, dan air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oisca Aceh didirikan oleh sejumlah warga Aceh yang pernah bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang berpusat di Jepang yakni, Organization for Industrial and Cultural Advancement (Oisca). Lembaga yang didirikan dengan tujuan meningkatkan semangat dan budaya berkarya, khususnya pada masyarakat negara-negara berkembang ini, telah banyak membantu masyarakat Aceh pascagempa dan tsunami, 26 Desember 2004 lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian besar pengurus Oisca Aceh pernah belajar, dan menimba ilmu di Jepang. Ketika tsunami terjadi di Aceh, Oisca Internasional Jepang juga sangat banyak membantu masyarakat Aceh. Jadi, kita sudah siap diberangkatkan ke Jepang,” sebut Khaidir Abdurrahman, Ketua Umum Oisca Aceh, kepada Serambi, Minggu (13/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, kata Khaidir, pihaknya terkendala untuk jalur keberangkatan ke Jepang. “Jika Pemerintah Aceh, Pemerintah Indonesia, atau PMI dan lembaga lainnya mengirimkan relawan ke Jepang, kami harap kami diikutsertakan. Karena, lima relawan kami sudah siap untuk diberangkatkan,” sebut Khaidir yang juga Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, informasi yang diterima dari Jepang, tiga provinsi paling parah yang membutuhkan pertolongan segera yaitu Provinsi Miyagi, Iwata, dan Provinsi Fukushima di Jepang. “Di tiga provinsi itu semua lumpuh total. Itu data yang kami peroleh dari teman-teman Oisca di Jepang. Kami harap, jika pemerintah berangkat, relawan kami diikutsertakan,” pungkas Khaidir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-3079205559840030351?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/3079205559840030351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/alumni-oisca-aceh-siapkan-relawan-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/3079205559840030351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/3079205559840030351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/alumni-oisca-aceh-siapkan-relawan-ke.html' title='Alumni Oisca Aceh Siapkan Relawan ke Jepang'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-mEIC0IwnEKc/TX3H7KTNr2I/AAAAAAAAAHs/LvEh-SfCCOw/s72-c/lovegreen_resize2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-4833015951839895777</id><published>2011-03-14T14:39:00.000+07:00</published><updated>2011-03-14T14:39:52.969+07:00</updated><title type='text'>Daratan Jepang Ambles 70 Cm Pasca Gempa</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-XkiLzKDvDFg/TX3GHTgxdyI/AAAAAAAAAHk/lrjCAuQiGIw/s1600/tsunami_jepang_goyang.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="198" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-XkiLzKDvDFg/TX3GHTgxdyI/AAAAAAAAAHk/lrjCAuQiGIw/s320/tsunami_jepang_goyang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Badan informasi geofisika Jepang (GSI) menyatakan, akibat gempa bumi berkekuatan 9 skala richter yang terjadi di Jepang, Jumat 11/03/11, kemarin,  tinggi permukaan tanah di Ishinomaki, Miyagi, ambles sampai dengan 70 cm. Tidak hanya di wilayah Miyagi saja, tapi penurunan tanah juga terjadi di beberapa wilayah terkena gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor seismologi di Nagoya University, Takeshi Sagiya, mengatakan fenomena penurunan permukaan tanah itu terjadi karena adanya perubahan kerak bumi akibat gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga di ungkapkan Yuji Yagi, profesor di Universitas Tsukuba, Jepang. Menurut Yuji, gerakan air laut yang sempat menghempas wilayah Jepang tersebut terjadi mulai 500 kilometer dari utara ke selatan, dari Prefektur Aomori ke Prefektur Ibaraki, dengan lebar gerakan sekitar 200 km. Pergerakan menunjukan hal itu terjadi di dua titik, yakni dari wilayah Prefektur Iwate ke Prefektur Miyagi, dan satu gerakan lain dari Prefektur Ibaraki. Proses pertama terjadi di titik utara dan kemudian melanjutkan perjalanan ke selatan menuju Ibaraki dalam waktu hanya sekitar 70 detik. Akibatnya, patahan lempeng bumi bergeser hingga 20 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amblesnya tanah di lokasi pasca gempa juga tak hanya di wilayah Ishinomaki. Tingkat keamblesan sekitar 66 cm juga terjadi di wilayah Kesennuma, dan titik ambles 30 sampai 40 cm di sekitar Higashi-Matsushima. Para peneliti mengatakan, tanah di lempeng Pasifik yang saat gempa didorong ke atas jatuh kembali ke bawah pada saat gempa mulai reda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-4833015951839895777?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/4833015951839895777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/daratan-jepang-ambles-70-cm-pasca-gempa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/4833015951839895777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/4833015951839895777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/daratan-jepang-ambles-70-cm-pasca-gempa.html' title='Daratan Jepang Ambles 70 Cm Pasca Gempa'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-XkiLzKDvDFg/TX3GHTgxdyI/AAAAAAAAAHk/lrjCAuQiGIw/s72-c/tsunami_jepang_goyang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6659189414613149603</id><published>2011-03-13T20:56:00.000+07:00</published><updated>2011-03-13T20:56:17.848+07:00</updated><title type='text'>Lempengan Bumi di Jepang Bergeser 40 Meter</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Iv06WZGzREk/TXzM-58lJBI/AAAAAAAAAHc/Yl31UgyrFnM/s1600/DMnqG01BRI.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="176" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-Iv06WZGzREk/TXzM-58lJBI/AAAAAAAAAHc/Yl31UgyrFnM/s320/DMnqG01BRI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;CALIFORNIA - Hitungan terakhir mengenai gempa yang terjadi di Jepang kemarin, adalah lempengan Bumi yang retak, tidak sebesar yang diperkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah lempengan bumi yang retak itu kecil, dengan panjang antara 300 dan 400 kilometer. Sebagai perbandingan, gempa 9,1 skala richter yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 menghasilkan retakan lempengan sepanjang 1.300 km. Demikian seperti yang dikutip dari New Scientist, Sabtu (12/3/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa gempa tersebut sangat kuat? Hal itu terjadi ketika dua lempengan tektonik bergeser sepanjang 40 meter. Kalkulasi ini didapatkan Chen Ji dari University of California, Santa Cruz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menghasilkan kalkulasi tersebut, Ji mengunduh informasi mengenai gelombang seismik yang hadir di stasiun di seluruh dunia, dan lalu membalikkan data tersebut, untuk melihat retakan yang dihasilkan dari energi seismik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalkulasi dari Ji menyatakan kalau retakan lempengan sepanjang 400 km tersebut ada yang seluas 40 meter. Sementara dari US Geological Survey mengestimasikan luas retakan tersebut hanya 20 meter saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya ini adalah salah satu pergerakan lempengan Bumi terbesar di dunia dan memiliki dampak yang besar bagi gempa ke depannya di wilayah tersebut, sebagaimana tekanan selama gempa akan disalurkan ke retakan terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gempa ini meningkatkan kondisi tekanan dan potensi bagi retakan untuk pecah di bagian selatan dan utara. Ini bisa memakan waktu beberapa bulan atau tahun," jelas Ji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kondisi di Jepang sudah pulih, maka data ini akan menyediakan sebuah informasi detil bagaimana gempa tersebut bisa menimbulkan tsunami yang besar.&lt;br /&gt;(srn)&lt;br /&gt;(Sumber:okezone.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6659189414613149603?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6659189414613149603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/lempengan-bumi-di-jepang-bergeser-40.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6659189414613149603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6659189414613149603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/lempengan-bumi-di-jepang-bergeser-40.html' title='Lempengan Bumi di Jepang Bergeser 40 Meter'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Iv06WZGzREk/TXzM-58lJBI/AAAAAAAAAHc/Yl31UgyrFnM/s72-c/DMnqG01BRI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-2858140138922120914</id><published>2011-03-13T20:49:00.000+07:00</published><updated>2011-03-13T20:49:10.657+07:00</updated><title type='text'>Gempa Jepang Mempercepat Rotasi Bumi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--ra0AFtJi28/TXzLUkF-Q-I/AAAAAAAAAHU/Yz-YyENdowU/s1600/0725489620X310aa.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/--ra0AFtJi28/TXzLUkF-Q-I/AAAAAAAAAHU/Yz-YyENdowU/s320/0725489620X310aa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS.com - Gempa berkekuatan 9 Skala Richter (SR) yang terjadi di Jepang Jumat (11/3/2011) menyebabkan distribusi massa di Bumi berubah karena pergerakan lempeng dan runtuhnya batuan di kulit Bumi. Hal tersebut berpengaruh terhadap kecepatan rotasi bumi menjadi sedikit lebih cepat dan manusia mengalami hari yang lebih singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan berubahnya distribusi massa di Bumi, gempa Jepang mengakibatkan Bumi berotasi lebih cepat, mempersingkat hari sebanyak 1,8 mikrodetik," kata Richard Gross, geofisikawan di Laboratorium Propulsi Jet milik NASA di Pasadena, AS, seperti dilansir Space.com. Analisi sebelumnya gempa tersebut hanya berpengaruh mempercepat rotasi 1,6 mikrodetik, namun data terakhir menunjukkan kalau kekuatannya lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengaruh tersebut jauh lebih kecil ketimbang variasi tahunan lama rotasi Bumi. Panjang satu hari atau waktu rotasi Bumi adalah 24 jam atau 86.400 detik. Panjang hari selama ini bervariasi sekitar 1000 mikrodetik bergantung pada variasi musim distribusi massa Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan waktu rotasi akibat gempa seperti kali ini bukanlah yang pertama terjadi. Gempa Aceh tahun 2004 misalnya, mempersingkat hari sebanyak 6,8 mikrodetik. Sementara gempa di Chile mempersingkat hari sebanyak 1,26 mikrodetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gross mengungkapkan, perubahan ini belum selesai. Gempa susulan juga bisa mengubah waktu rotasi. "Gempa susulan juga bisa mengubah waktu rotasi. Namun karena kekuatan gempa susulan lebih kecil, pengaruhnya juga lebih kecil," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, Gross mengungkapkan, apapun yang berdampak pada distribusi massa Bumi akan berdampak pada rotasi. Gempa dilaporkan mempercepat sedikit gerakan rotasi bumi yang biasanya sekitar 1.604 km/jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, ahli astrofisika dari Indonesia yang bekerja di Max Planck Institute for Astronomy, Johny Setiawan, tak terlalu yakin dengan pendapat itu. Menurutnya, panjang pendeknya hari hanya bisa terjadi bila ada efek dari luar bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Bumi kejatuhan asteroid sehingga massanya bertambah, pasti akan berubah panjang pendeknya hari," lanjutnya. Menurutnya, jika massa bumi tetap sama maka harusnya kecepatan rotasi dan lamanya rotasi juga akan tetap sama.&lt;br /&gt;(Sumber: Tempointeraktif.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-2858140138922120914?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/2858140138922120914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/gempa-jepang-mempercepat-rotasi-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2858140138922120914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2858140138922120914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/gempa-jepang-mempercepat-rotasi-bumi.html' title='Gempa Jepang Mempercepat Rotasi Bumi'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--ra0AFtJi28/TXzLUkF-Q-I/AAAAAAAAAHU/Yz-YyENdowU/s72-c/0725489620X310aa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5733872326979161302</id><published>2011-03-13T20:43:00.000+07:00</published><updated>2011-03-13T20:43:19.465+07:00</updated><title type='text'>Tsunami Jepang Dikatakan Aneh Terlihat dari Peta NOAA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0HCCoosL18Y/TXzJ2AKjCjI/AAAAAAAAAHM/kJ1ybQ4hYdo/s1600/158621%2540stunami-jepang-spekturum.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="199" width="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-0HCCoosL18Y/TXzJ2AKjCjI/AAAAAAAAAHM/kJ1ybQ4hYdo/s320/158621%2540stunami-jepang-spekturum.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang Asia, terutama Aceh, Srilanka, Thailand dan Bangladesh, terbangkitkan lagi ingatan akan dahsyatnya tsunami 2004 lalu, begitu menyaksikan tayangan video betapa dahsyat dan mematikannya gempa dan tsunami di Jepang Jumat (11/3/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah korban tewas yang sudah dipastikan mencapai seribuan lebih, karena sampai saat ini masih banyak warga Jeoang yang belum diketemukan, selain menelan korban jiwa juga merusak segala bangunan, perekonomian, pendidikan dan segala bidang termasuk transpotasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu pertemuan di pusat tanggap darurat, Sabtu ini, Edano mengatakan, "Ini adalah gempa bumi terbesar sejak Era Meiji, dan diyakini lebih dari 1.000 orang telah kehilangan nyawanya," Kepala Sekretaris Kabinet Yukio Edano, Sabtu malam (12/3/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, peristiwa tsunami yang terjadi setelah gempa, banyak yang mengatakn peristiwa tersebut aneh, sebab selain menimbulkan pusaran air dipusat gempa, juga air yang menjalar tidak seperti biasanya tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sendiri merilis foto spektrum saat detik-detik air tsunami menjalar ke belahan dunia dengan gambar yang cukup aneh.(Wek) &lt;br /&gt;(Sumber: Berita8.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5733872326979161302?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5733872326979161302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/tsunami-jepang-dikatakan-aneh-terlihat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5733872326979161302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5733872326979161302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/tsunami-jepang-dikatakan-aneh-terlihat.html' title='Tsunami Jepang Dikatakan Aneh Terlihat dari Peta NOAA'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-0HCCoosL18Y/TXzJ2AKjCjI/AAAAAAAAAHM/kJ1ybQ4hYdo/s72-c/158621%2540stunami-jepang-spekturum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-3799787175547358115</id><published>2011-03-13T20:35:00.000+07:00</published><updated>2011-03-13T20:37:41.836+07:00</updated><title type='text'>Akibat Gempa, Pulau Honshu Bergeser 2,4 Meter</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-priIMewDhys/TXzIg-iVG4I/AAAAAAAAAHE/geybjDpqf8s/s1600/download.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="156" width="274" src="http://3.bp.blogspot.com/-priIMewDhys/TXzIg-iVG4I/AAAAAAAAAHE/geybjDpqf8s/s320/download.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif,  - Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan tsunami yang mengguncang Jepang, Jumat (11/3) lalu tak hanya menyapu negara itu. Tapi juga menggeser pulau Honshu sejauh 8 kaki atau 2,4 meter dari posisinya semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini terlihat dari pantauan yang ada di GSI (Geospatial Information Authority)," kata Kenneth Hudnut, ahli geofisika dari U.S. Geological Survey (USGS) seperti dikutip CNN, Minggu (13/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Honshu merupakan pulau yang terdekat dengan pusat gempa. Honshu merupakan pulau terbesar di Jepang. Ia memiliki luas 230.500 km persegi. Di pulau ini terletak kota Tokyo, Yokohama, Osaka, Nagoya, Kobe, Kyoto, Akita, Sendai, Fukushima, Niigata, dan Hiroshima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau ini juga ada sungai Shinano, sungai terpanjang di Jepang. Pada September 1923, pulau ini juga diguncang gempa bumi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa berkekuatan 8,9 di Jepang, Jumat, 11 Maret 2011 menyebabkan tsunami dahsyat pada Jumat. Peristiwa ini menyebabkan kota-kota di pantai timur laut Jepang hancur.&lt;br /&gt;(Sumber: Tempointeraktif.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-3799787175547358115?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/3799787175547358115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/tempo-interaktif-gempa-berkekuatan-89.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/3799787175547358115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/3799787175547358115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/tempo-interaktif-gempa-berkekuatan-89.html' title='Akibat Gempa, Pulau Honshu Bergeser 2,4 Meter'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-priIMewDhys/TXzIg-iVG4I/AAAAAAAAAHE/geybjDpqf8s/s72-c/download.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6548852377068761581</id><published>2011-03-13T20:14:00.001+07:00</published><updated>2011-03-13T20:14:56.535+07:00</updated><title type='text'>Direvisi, Gempa Jepang Berkekuatan 9 SR</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ndOUf1mj04M/TXzC_0Qau5I/AAAAAAAAAG0/Tb1TlRJRKJA/s1600/1455478620X310.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="160" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-ndOUf1mj04M/TXzC_0Qau5I/AAAAAAAAAG0/Tb1TlRJRKJA/s320/1455478620X310.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TOKYO, KOMPAS.com — Badan Metereologi Jepang mengatakan bahwa besaran gempa bumi yang melanda wilayah timur laut Jepang pada Jumat lalu mencapai 9 skala Ritcher. Demikian dikutip kantor berita Jepang, Kyodo, Minggu (13/3/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Badan Meteorologi Jepang mengatakan, kekuatan gempa bumi yang disusul tsunami tersebut 8,9 skala Ritcher (8,9 SR). Gempa ini, seperti dilansir Kyodo merupakan salah satu gempa bumi terbesar di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang disusul tsunami tersebut mencapai sekitar 2.000 orang. Di Prefektur Fukushima, jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 1.167 orang. Di Prefektur Miyagi dan Iwate setidaknya ditemukan 600 jenazah. Sementara itu, di Miyagi, 200 jenazah baru ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut juru bicara kepolisian Miyagi, Go Sugawara, korban tewas di Miyagi mungkin mencapai 10.000 jiwa. Miyagi adalah wilayah yang terkena dampak terburuk dari tragedi gempa dan tsunami pada Jumat lalu. Sebagaimana diketahui, gempa berkekuatan 9 SR telah menyebabkan tsunami setinggi 4-10 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang tsunami juga dilaporkan telah merusak 20.820 bangunan. Saat ini, menurut pemerintah pusat dan daerah, lebih dari 300.000 orang telah dievakuasi di tempat-tempat penampungan yang terletak di enam prefektur.&lt;br /&gt;Sumber Kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6548852377068761581?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6548852377068761581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/direvisi-gempa-jepang-berkekuatan-9-sr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6548852377068761581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6548852377068761581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/03/direvisi-gempa-jepang-berkekuatan-9-sr.html' title='Direvisi, Gempa Jepang Berkekuatan 9 SR'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ndOUf1mj04M/TXzC_0Qau5I/AAAAAAAAAG0/Tb1TlRJRKJA/s72-c/1455478620X310.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-2710554647402695120</id><published>2011-02-06T12:36:00.000+07:00</published><updated>2011-02-06T12:38:52.585+07:00</updated><title type='text'>Agro Technopark: Kampung Teknologi Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4zwT7ZVcI/AAAAAAAAAGc/ldGGPBQZgoM/s1600/kampung-teknologi-jepara-indonesiaproud.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4zwT7ZVcI/AAAAAAAAAGc/ldGGPBQZgoM/s320/kampung-teknologi-jepara-indonesiaproud.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570446694180017602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar kata kampung maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah hamparan sawah, gemericik air sungai, ternak, para petani dan sesuatu yang berbau “ndeso”. Namun bagaimana dengan “Kampung Teknologi”, apakah masih sama dengan konsep kampung yang selama ini kita jumpai, masihkah ada citarasa pedesaan atau justru berubah menjadi pameran teknologi tinggi yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung yang merupakan program  Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang bernama Agro Technopark diimplementasikan  oleh Pemerintah Kabupaten Jepara dengan nama Kampung Teknologi. Di Indonesia, Agro Technopark sudah dibangun di beberapa daerah, seperti Palembang, Bali, dan Cianjur. Kampung Teknologi Jepara ini dibangun di atas hamparan lahan seluas 110,33 Ha di Desa Suwawal, Kecamatan Pakis Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini sengaja dibangun di Jepara mengingat karakteristik masyarakatnya yang hidup di pedesaan dan potensi desa yang luar biasa namun belum tergali secara maksimal. Kampung Teknologi Jepara ini terbagi menjadi tiga kawasan, yakni Kawasan Agrotechnopark, Kawasan Technopark, dan Kawasan Ecopark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Agrotechnopark merupakan kawasan untuk pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi, seperti teknologi pasca panen, zona peternakan, perikanan maupun budidaya pertanian. Kawasan Technopark merupakan kawasan untuk pengembangan sektor industri pengolahan berbasis teknologi, yakni pengolahan pasca panen, bengkel kerja teknologi tepat guna, pengolahan limbah indistri dam lainnya. Sedangkan kawasan Ecopark adalah kawasan edukatif yang merupakan kawasan informasi  teknologi, zona wisata, maupun belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran kampung ini adalah masyarakat pedesaan, karena merekalah yang paling memerlukan teknologi khususnya di bidang pertanian dan peternakan. Teknologi dipercaya dapat meningkatkan dan mengangkat perekonomian masyarakat karena menghasilkan produk-produk bernilai ekonomi dan laku di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain sebagian masyrakat Indonesia yang merupakan masyarakat pedesaan tidak mendapatkan akses teknologi tersebut, bahkan perangkat teknologi yang rumit meyebabkan mereka lebih memilih cara konvensional. Belum lagi ketakutan mereka yang menganggap bahwa pemanfaatan teknologi berarti harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di lain pihak, para peneliti negeri ini telah berkarya menghasilkan berbagai sarana dan perangkat berteknologi yang dapat digunakan masyarakat, mampu menghasilkan produk lebih baik, yang sesuai adat istiadat, mudah dibuat, mudah diperbaiki dan harga terjangkau. Namun sayangnya masyarakat pedesaan tidak mengetahui keberadan alat tersebut, akses informasi mengenai perangkat tersebut tidak sampai ke masyarakat sehingga penggunaan teknologi “warisan” masih terus digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kampung Teknologi dirancang untuk memamerkan dan memberikan informasi seluas-luasnya dan selengkap–lengkapnya kepada masyarakat mengenai perangkat teknologi terkini, khususnya di bidang pertanian dan peternakan. Kampung ini merupakan media perantara antara penemu dan pembuat teknologi dengan masyarakat pengguna teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memperkuat dukungan teknologi di dalam pengembangan selanjutnya maka pada tanggal 20 Desember 2010 yang lalu dilakukan penandatangan Nota Kesepahaman antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan Pemerintah Kabupaten Jepara tentang pengembangan Sistem Inovasi Daerah Pertanian Terpadu berbasis Kacang Tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penandatangan Nota Kesepahaman ini diharapkan dapat merintis jalan menuju peningkatan kerja sama antara unsur pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha dan masyarakat luas dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya inovasi, khususnya di kabupaten Jepara dan kabupaten lainnya di Jawa Tengah. Dengan demikian terciptalah Sistem Inovasi Daerah, dimana seluruh stakeholder di daerah secara bersama-sama mendorong adanya sinergi antara aktivitas sektor produksi dan aktivitas pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pembangunannya belum selesai dikerjakan, namun  Kampung Teknologi ini kedepannya dapat menjadi kawasan contoh untuk pengembangan sektor ekonomi strategis berbasis teknologi yang menyajikan, memperagakan dan menginformasikan teknologi terkini dari berbagai bidang studi yang ditujukan untuk produksi, penelitian, pendidikan dan pelatihan sebagai bentuk alih teknologi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai perangkat teknologi pertanian dan peternakan ini Kampung Teknologi Jepara tidak hanya sekedar kampung biasa. “Kampung ndeso dengan cita rasa teknologi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: humas ristek &lt;br /&gt;http://indonesiaproud.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-2710554647402695120?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/2710554647402695120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/agro-technopark-kampung-teknologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2710554647402695120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2710554647402695120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/agro-technopark-kampung-teknologi.html' title='Agro Technopark: Kampung Teknologi Jepara'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4zwT7ZVcI/AAAAAAAAAGc/ldGGPBQZgoM/s72-c/kampung-teknologi-jepara-indonesiaproud.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5995889541487950940</id><published>2011-02-06T12:17:00.001+07:00</published><updated>2011-02-06T12:18:22.344+07:00</updated><title type='text'>OISCA MANGROVE PROGRAM 2010: 50.000 PROPAGUL MANGROVE DITANAM DI CLERING DAN UJUNGWATU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4vAhd3LbI/AAAAAAAAAGU/ENSXdG06S-w/s1600/3.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4vAhd3LbI/AAAAAAAAAGU/ENSXdG06S-w/s320/3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570441475134008754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepara. Pelaksanaaan program OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Project di wilayah kabupaten Jepara telah memasuki tahun kedua dari lima tahun keberlanjutan program yang direncanakan. Melalui koordinator wilayah rehabilitasi mangrove kabupaten Jepara pada tahun kedua ini OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Project melakukan penanaman 50.000 batang tanaman mangrove dari spesies Rhizophora mucronata, Rhizophora Stylosa, Rhizophora Apiculata dan Avicenia marina dengan keluasan 20 hektar di dua lokasi masing-masing di desa Clering dan Ujungwatu.&lt;br /&gt;Penanaman kali ini merupakan kelanjutan dari penanaman sebelumnya yang telah dilaksanakan OISCA Koordinator wilayah kabupaten Jepara pada tahun 2009 sehingga sampai saat ini OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Project telah melakukan penanaman 75.000 batang mangrove dengan keluasan mencapai 30 hektar. Pelaksanaan penanaman mangrove untuk tahun kedua yang dilakukan oleh OISCA bekerjasama dengan kelompok tani mangrove Lembah Gunung Bakau dan kelompok pemuda Sahabat Pantai  desa Clering berlangsung selama Delapan hari dengan mengambil lokasi dipantai dan tepian sungai.&lt;br /&gt;Pelaksanaan penanaman mangrove oleh OISCA selama ini bukannya tanpa kendala, masih banyak kendala yang perlu ditindak lanjuti bersama terutama belum adanya peraturan pemerintah mengenai pemanfaatan tanah timbul yang ada di kedua lokasi penanaman sehingga sering kali penanaman terhambat mengenai lokasi terpilih untuk melakukan penanaman sudah di ajir(ditandai) oleh masyakat dan sudah sebagai hak guna mereka, hal ini akan terus berlangsung selama belum adanya peraturan pemerintah baik PERDA maupun PERDES yang mengatur peruntukan dan penggunaan tanah timbul karena menurut Undang-undang lokasi ini merupakan tanah negara yang pengelolaan dan pemanfatannya diatur oleh negara. Kegiatan ekonomi masyarakat sekitar juga seringkali menyebabkan tanaman rusak sehingga perlu juga dibuat peraturan dengan skema yang bisa mewadai semua kepentingan sehingga masyarakat tetap bisa melakukan kegiatan ekonominya tanpa harus merusak tanaman mangrove serta dapat membuka tambak baru dengan konsep Sylvo fishery .(Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5995889541487950940?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5995889541487950940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/oisca-mangrove-program-2010-50000.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5995889541487950940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5995889541487950940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/oisca-mangrove-program-2010-50000.html' title='OISCA MANGROVE PROGRAM 2010: 50.000 PROPAGUL MANGROVE DITANAM DI CLERING DAN UJUNGWATU'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4vAhd3LbI/AAAAAAAAAGU/ENSXdG06S-w/s72-c/3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-640376947269531098</id><published>2011-02-06T12:15:00.001+07:00</published><updated>2011-02-06T12:16:24.762+07:00</updated><title type='text'>PROGRAM PENGHIJAUAN OISCA – YAMAKI WAY DI GUNUNG LAWU, KARANGANYAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4ul87FLiI/AAAAAAAAAGM/oBGmYDtwN-c/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 129px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4ul87FLiI/AAAAAAAAAGM/oBGmYDtwN-c/s320/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570441018647850530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karanganyar. Program penghijauan kerjasama OISCA, Ombutsudan Yamaki Way, Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Perhutani kembali  dilaksanakan, pada 18 Januari 2011 Direktur Yamaki Way Mr. Asano bersama Bupati Karanganyar Rina iriani didampingi Kapolres Karanganyar, Kejari, Perwakilan Administratur KKPH Karanganyar, Country manager OISCA dan Direktur OISCA Karanganyar serta siswa dan alumni OISCA, Mahasiswa, LSM, siswa SD Segoro gunung 1 &amp; 2 dan masyarakat melakukan penanaman dikawasan wisata hutan pinus gunung lawu.&lt;br /&gt;Acara yang sempat tertunda karena terjadinya erupsi gunung merapi tersebut merupakan pelaksanaan yang ke lima kalinya OISCA dan Yamaki Way melakukan program penghijauan di gunung lawu sejak 2006. Program penghijauan ini merupakan komitmen dari Yamaki untuk ikut berpartisipasi dalam menanggulangi efek dari pemanasan global dan melestarikan lingkungan. Yamaki sendiri merupakan sebuah perusahaan dari Jepang yang konsen terhadap pelestarian lingkungan hidup melalui program CSR yang dilakukan di Indonesia Yamaki semakin menunjukkan komitmen untuk penyelamatan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Dalam kegiatan ini hadir pula koordinator OISCA Mangrove program dan CFP dari Jepara, Demak dan Pati yang ikut berpartisipasi mensukseskan acara ini, dimana mereka juga harus bertanggung jawab untuk mensukseskan program OISCA di wilayah masing-masing.(Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-640376947269531098?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/640376947269531098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/program-penghijauan-oisca-yamaki-way-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/640376947269531098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/640376947269531098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/program-penghijauan-oisca-yamaki-way-di.html' title='PROGRAM PENGHIJAUAN OISCA – YAMAKI WAY DI GUNUNG LAWU, KARANGANYAR'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4ul87FLiI/AAAAAAAAAGM/oBGmYDtwN-c/s72-c/2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-60036271567141996</id><published>2011-02-06T12:12:00.000+07:00</published><updated>2011-02-06T12:14:48.417+07:00</updated><title type='text'>BERKAH DIBALIK MUSIBAH BANJIR BANDANG CLERING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4uPo2vxMI/AAAAAAAAAGE/LJ6HEoUrRVo/s1600/1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 192px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4uPo2vxMI/AAAAAAAAAGE/LJ6HEoUrRVo/s320/1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570440635303838914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepara. Bencana banjir bandang yang terjadi di Clering Jepara pada Kamis (20/1) telah meninggalkan duka serta traumatis yang mendalam kepada warga yang lokasi rumahnya turut tersapu banjir, kerugian materiil menyebabkan perputaran kegiatan ekonomi mereka terganggu mulai sawah yang rusak dan tidak bisa dipanen, kolam lele yang tenggelam, tambak bandeng yang jebol dan habis isinya sampai karamnya perahu nelayan.&lt;br /&gt;Namun di balik kerugian yang diakibatkan banjir bandang tersebut terdapat berkah yang dapat dinikmati sebagian warga, banjir bandang cukup besar yang membawa material pasir memberikan sumber penghidupan baru bagi mereka. Material pasir yang melimpah disepanjang aliran sungai mulai dari desa Clering, Ujungwatu, Banyumanis sampai Tulakan membuat warga berbondong-bondong menambangnya. Tidak hanya material pasir yang dapat mereka manfaatkan karena banyak pula material kayu yang terbawa arus banjir sampai ke pemukiman sehingga dapat mereka manfaatkan untuk dijual kembali ataupun sekedar untuk kayu bakar.&lt;br /&gt;Banyaknya material pasir yang terbawa dari hulu juga sempat memacetkan jalan utama menuju kawasan wisata Benteng Portugis, material pasir dan kayu yang terbawa dari hulu gunung Clering menjadi berkah bagi sebagian warga namun meskipun banjir memeberikan keuntungan sesaat siapapun pasti tidak ingin bencana ini terulang kembali. (Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-60036271567141996?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/60036271567141996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/berkah-dibalik-musibah-banjir-bandang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/60036271567141996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/60036271567141996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/02/berkah-dibalik-musibah-banjir-bandang.html' title='BERKAH DIBALIK MUSIBAH BANJIR BANDANG CLERING'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TU4uPo2vxMI/AAAAAAAAAGE/LJ6HEoUrRVo/s72-c/1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5259059484508091069</id><published>2011-01-21T18:46:00.000+07:00</published><updated>2011-01-21T18:50:33.276+07:00</updated><title type='text'>BANJIR BANDANG MENERJANG DESA CLERING, JEPARA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TTlysrBQosI/AAAAAAAAAFk/G-KBsx8vNj0/s1600/759e11ef4f07888a71953b94a8134379.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TTlysrBQosI/AAAAAAAAAFk/G-KBsx8vNj0/s320/759e11ef4f07888a71953b94a8134379.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564604926380778178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;JEPARA - Banjir lumpur menerjang Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Kamis (20/1), sekitar pukul 00.00. Paling sedikit 10 dukuh di desa itu terkena dampaknya. Hanya, Dukuh Kedungsari yang letaknya paling tinggi yang tak terkena banjir.&lt;br /&gt;Dukuh-dukuh yang tersapu banjir adalah Dukuh Clering, Soka, Gandik, Trowulan, Jetis, Karang Sari, Pasokan, Bumiharjo, Tarang Rejo dan Karang Rejo. Banjir berasal dari luapan Sungai Clering dan Kali Gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir terparah terjadi di Dukuh Karangrejo dengan ketinggian air mencapai 70 cm. Selain menggenangi permukiman, banjir juga menghancurkan sekitar 100 hektare sawah, 50 hektare tambak bandeng siap panen, serta merusak jalan dan meruntuhkan jembatan Jembatan Soka, yang merupakan satu-satunya akses menuju Desa Clering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solekan (50), warga Dukuh Soka yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Clering, menuturkan sekitar pukul 00.00, Jembatan Soka runtuh karena fondasi jembatan tak mampu menahan arus air yang membawa batang-batang pohon-pohon dari Gunung Clering.&lt;br /&gt;“Saluran air terhambat karena banyak batang pohon dari hutan yang  terhanyut dan tersangkut di bawah jembatan,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan sepanjang 25 meter itu dibangun tahun 2002 dengan dana swadaya masyarakat Rp 150 juta dan bantuan ADD Rp 7 juta.  Solekan berharap, Pemkab Jepara membantu membangun kembali satu-satunya akses jalan menuju Dukuh Soka tersebut. “Saat ini, kami terisolasi dan tidak bisa kemana-mana. Kami menunggu bantuan bahan pangan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;longsor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, Sungai Clering dan Kali Gede meluap akibat hujan deras yang terus mengguyur sepanjang hari. Sementara kondisi Gunung Clering tak lagi mampu menjadi daerah resapan air. Selain jembatan runtuh, longsor juga terjadi di beberapa lokasi.&lt;br /&gt;“Air ini datang dari gunung yang sudah tidak lagi mampu menyerap air yang melimpah. Juga diperparah dengan banyaknya tebing yang longsor dan menghambat aliran air,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Petinggi Desa Clering Ali Mahmudi, tanda-tanda banjir mulai terlihat Rabu (19/1) sekitar pukul 23.30. Luapan air deras pertama kali terjadi di Dukuh Soka dan Kedungsari.  Air kemudian bertambah besar sampai merata ke dukuh di bawahnya.&lt;br /&gt;Indikasi akan terjadi banjir terlihat dengan adanya pohon-pohon yang hanyut dari atas Dukuh Soka. “Saya lalu memeringatkan warga untuk waspada karena banjir akan datang. Tepat pukul 00.00, banjir itu benar-benar menerjang,” kata Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Jepara Hendro Martojo bersama Kepala SKPD terkait, Kamis (20/1) sekitar pukul 10.00 meninjau Desa Clering. Pemkab langsung mendata berbagai kerusakan akibat bencana tersebut. Perbaikan Jembatan Soka menjadi prioritas, selain pemulihan kondisi infrastruktur lainnya.&lt;br /&gt;“Jumat ini mulai dibangun jembatan darurat. Harapan saya, Minggu lusa sudah jadi dan bisa dilalui sepeda motor dan anak-anak bisa kembali ke sekolah,” jelas Bupati. (J4-35)Sumber:Suara merdeka Cyber News/20 Januari 2011(http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/20/134975/Banjir-Lumpur-Terjang-Clering)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5259059484508091069?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5259059484508091069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/jepara-banjir-lumpur-menerjang-desa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5259059484508091069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5259059484508091069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/jepara-banjir-lumpur-menerjang-desa.html' title='BANJIR BANDANG MENERJANG DESA CLERING, JEPARA'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TTlysrBQosI/AAAAAAAAAFk/G-KBsx8vNj0/s72-c/759e11ef4f07888a71953b94a8134379.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-1208714364842375601</id><published>2011-01-07T21:52:00.000+07:00</published><updated>2011-01-07T21:55:40.714+07:00</updated><title type='text'>SAHABAT PANTAI DAN OISCA ACADEMY  MENANAM MANGROVE DI DEMAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScpZbFbyAI/AAAAAAAAAFc/4OvbBdVGpN0/s1600/untitldedi.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScpZbFbyAI/AAAAAAAAAFc/4OvbBdVGpN0/s320/untitldedi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559457781756184578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Demak, Bersama tiga orang perwakilan dari kelompok pemuda pecinta laut “Sahabat Pantai” desa Clering Koordinator OISCA kabupaten Jepara didampingi Project assistant pada 4 – 5 Desember 2010 ikut serta dalam penyambutan kedatangan siswa dari OISCA Academy Jepang yang berkunjung ke Demak selama 2 hari yang diawali dengan penyambutan  kedatangan rombongan di SMK Perikanan Demak pada hari pertama, pada acara hari pertama setelah acara penyambutan diadakan pentas seni dari SMK Perikanan Demak maupun dari OISCA Academy. &lt;br /&gt;Pada malam harinya diadakan ramah tamah dan makan malam bersama kelompok mangrove Demak di penginapan OISCA Academy di TC. BPSMP Deptan Ungaran, Semarang dalam acara ini diperkenalkan masing masing pengurus dari kelompok mangrove bahari  beserta keluarganya.&lt;br /&gt;Pada hari kedua seluruh peserta langsung menuju ke lokasi penanaman mangrove di desa Bedono, Sayung Kabupaten Demak, dalam acara penanaman mangrove selain diikuti oleh siswa OISCA Academy juga diikuti oleh siswa SD, SMK, Mahasiswa dan dari jajaran Kodim Demak, Sahabat pantai dari desa Clering, Jepara juga ikut berpartisispasi langsung dalam kegiatan ini. Acara penanaman yang dikemas santai membuat peserta asyik dan bersemangat sehingga dalam waktu tidak lama 5.000 batang propagul rhizophora mucronata telah tertanam. Disela-sela acara penanaman kelompok pemuda “Sahabat Pantai” beramah tamah serta berdiskusi dengan kelompok tani mangrove bahari mengenai keberhasilan dalam penanaman mangrove selama ini serta upaya-upaya  apa saja yang dilakukan untuk bisa melalui hambatan yang muncul.&lt;br /&gt;Setelah acara penanaman selesai dilanjutkan dengan  makan siang yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dari kelompok mangrove setempat dengan menu khas sea food yang berasal dari lokasi setempat, kepiting, udang dan kerang merupakan hasil perikanan yang berkembang baik setelah adanya tanaman mangrove.Kemudian  dilanjutkan dengan foto bersama dan sayonara.(Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-1208714364842375601?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/1208714364842375601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/sahabat-pantai-dan-oisca-academy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/1208714364842375601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/1208714364842375601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/sahabat-pantai-dan-oisca-academy.html' title='SAHABAT PANTAI DAN OISCA ACADEMY  MENANAM MANGROVE DI DEMAK'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScpZbFbyAI/AAAAAAAAAFc/4OvbBdVGpN0/s72-c/untitldedi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-8757543060632925708</id><published>2011-01-07T21:40:00.000+07:00</published><updated>2011-02-06T11:59:59.433+07:00</updated><title type='text'>PENCANANGAN ONE BILLION INDONESIAN TREES (OBIT), OISCA MENANAM 10.000 MANGROVE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScnSemLRNI/AAAAAAAAAFM/1KVc47cNVsQ/s1600/untitledgh.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScnSemLRNI/AAAAAAAAAFM/1KVc47cNVsQ/s320/untitledgh.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559455463416480978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepara, Bertempat di kawasan wisata benteng Portugis Desa Banyumanis Donorojo Kabupaten Jepara pada tanggal 30 November 2010 Gubernur Jawa tengah Bibit waluyo didampingi Bupati Jepara Hendro martojo mencanangkan “Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon” One Billion Indonesian Trees (OBIT) yang dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar lokasi wisata dan di Cagar Alam Gunung Clering dalam kesempatan itu juga dilakukan pelepasan anak penyu dan burung sebagai simbol konservasi .&lt;br /&gt;Dalam sambutannya Bupati Jepara menyampaikan di kabupaten Jepara telah dilakukan penanaman pohon termasuk penanaman mangrove yang dilakukan OISCA di Clering&lt;br /&gt;Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yaitu seluas + 138 juta Ha. Kawasan hutan tersebut memiliki kekayaan alam yang luar biasa besar dan dianggap sebagai paru-paru dunia, mempunyai peranan penting sebagai sistem penyangga kehidupan dan penggerak perekonomian. &lt;br /&gt;Namun keberadaannya beberapa tahun terakhir memiliki persoalan besar dengan terjadinya degradasi hutan dan lahan, deforestasi yang disebabkan oleh illegal logging, penjarahan hutan, alih fungsi lahan, perambahan kawasan, kebakaran hutan dan tindak kejahatan hutan lainnya. Dengan laju deforestasi sebesar 1,17 juta hektar per tahun, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang turut andil dalam terjadinya pemanasan global. &lt;br /&gt;Berbagai tindak kejahatan terhadap hutan, selain mengakibatkan pemanasan global juga mengakibatkan kerusakan ekosistem dan kualitas lingkungan hidup, hilangnya bioderversity serta menurunnya kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi di masa mendatang. &lt;br /&gt;Terkait dengan pemanasan global, Presiden RI pada saat KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen bulan Desember 2009 menyampaikan komitmen Indonesia dalam penurunan emisi sebesar 26% - 41% pada tahun 2020. Komitmen tersebut didasari atas kenyataan bahwa : &lt;br /&gt;1. Indonesia termasuk pada urutan terbesar negara berkembang dengan emisi dari deforestasi; &lt;br /&gt;2. Berdasarkan hasil penelitian para ahli bahwa deforestasi menyumbang 18% dari emisi GHGs total dunia, 75% berasal dari negara berkembang; &lt;br /&gt;3. Diperkirakan emisi dari deforestasi di negara berkembang akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan untuk keperluan pembangunan. &lt;br /&gt;Isu perubahan iklim global bukan merupakan cerita belaka, akan tetapi sudah menjadi suatu kebenaran. Berbagai dampak perubahan iklim telah nyata dirasakan tidak hanya di Indonesia, akan tetapi di seluruh dunia. Beberapa tahun terakhir, pada musim penghujan terjadi peningkatan intensitas badai angin dan hempasan angin panas, bencana banjir tahunan dan tanah longsor. Sebaliknya pada musim kemarau, terjadi bencana kekeringan yang berkepanjangan. &lt;br /&gt;Untuk mengantisipasi dampak pemanasan global tersebut, salah satu upaya yang paling efektif adalah melalui kegiatan penanaman pohon secara massal, karena pohon mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap gas rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global. &lt;br /&gt;Apabila tidak ada aksi pencegahan dipastikan suhu bumi akan terus meningkat. Oleh karena itu, sebagai perwujudan komitmen Bangsa Indonesia dalam penurunan emisi sebesar 26% - 41%, pada Tahun 2010 Indonesia akan melakukan Penanaman Satu Milyar Pohon/One Billion Indonesian Trees (OBIT) dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. &lt;br /&gt;Sejak 2007, Pemkab Jepara sudah merehabilitasi 43,97 persen dari total lahan kritis seluas 51.895,20 hektar atau sudah mencapai 22.820,38 hektar. Sampai tahun 2009 lahan kritis di Jepara tersisa 28,9 ribu hektar yang terdiri dari 8,37 hektar sangat kritis, 1.000 hektar kritis, 21.000 hektar agak kritis, dan 6.000 hektar potensial kritis dari yang sebelumnya berada pada posisi 480 hektar sangat kritis 2.353 hektar  kritis, dan 49.000 hektar agak kritis.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScnr6QocLI/AAAAAAAAAFU/LB7h8W8-hXc/s1600/untitlegd2.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 175px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScnr6QocLI/AAAAAAAAAFU/LB7h8W8-hXc/s320/untitlegd2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559455900339040434" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam kesempatan ini OISCA Bersama 20 orang anggota kelompok tani mangrove LGB dan kolompok pemuda Sahabat Pantai dari desa Clering, Donorojo ikut berpartisipasi dalam acara pencanangan penanaman satu milyar pohon yang dilaksanakan di Jepara dengan mengikuti upacara pencanangan di lokasi wisata benteng Portugis dilanjutkan dengan malukakan penanaman 10.000 batang mangrove berupa 5.000 batang bibit avicenia marina dan 5.000 batang propagul rhizophora stylosa yang ditanam di desa Clering.(Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-8757543060632925708?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/8757543060632925708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/pencanangan-one-billion-indonesian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8757543060632925708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8757543060632925708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2011/01/pencanangan-one-billion-indonesian.html' title='PENCANANGAN ONE BILLION INDONESIAN TREES (OBIT), OISCA MENANAM 10.000 MANGROVE'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TScnSemLRNI/AAAAAAAAAFM/1KVc47cNVsQ/s72-c/untitledgh.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5725139628636585199</id><published>2010-08-19T10:23:00.000+07:00</published><updated>2010-08-19T10:33:48.391+07:00</updated><title type='text'>Semenanjung muria Jepara sebagai calon lokasi  Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TGyl_CalSGI/AAAAAAAAAD8/N4z7WfwrI5E/s1600/6-4-2009-pubseindonesia2.GIF"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TGyl_CalSGI/AAAAAAAAAD8/N4z7WfwrI5E/s320/6-4-2009-pubseindonesia2.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506958946765981794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Red- Letak wilayah semenanjung muria Jepara sangat strategis sebagai calon lokasi pemindahan ibukota dimana Jepara merupakan bagian dari wilayah pulau jawa yang letaknya paling utara sehingga sangat memenuhi syarat sebagai “center  of teritory” dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki fasilitas infrastruktur memadai serta topografi wilayah yang sangat memungkinkan dijadikan kawasan nome satu di negara kesatuan kita ini.&lt;br /&gt;Wacana pemindahan ibukota negara yang mencuat akhir-akhir ini menimbulkan banyak pertimbangan lokasi baru, mulai dari Letak wilayah yang harus berada ditengah dari seluruh kawasan wilayah Indonesia, Letak geografis yang mendukung dan relatif terhindar dari potensi terjadinya bencana alam, Topografi wilayah dengan ketinggian dari permukaan laut yang ideal, Tersedianya lokasi pembangunan pelabuhan laut yang memadai dan Sejarah historikal wilayah yang patut ditelusuri sampai pada mahalnya biaya yang akan dibebankan pada negara yang diperkirakan mencapai minimal 100 triliun dimana sangat tidak populer ketika sebagian besar masyarakat Indonesia masih berurusan dengan masalah kemiskinan, namun melihat carut-marutnya Jakarta saat ini wacana pemindahan ibu kota negara perlu dikaji dengan pendekatan konsep yang lebih terukur dimana nantinya calon lokasi ibu kota negara yang baru memiliki syarat-syarat sebagai kota metropolitan serta dalam proses pembangunan dan pemindahan ibu kota negara nantinya dapat dipertimbangkan masalah mahalnya biaya yang akan dikeluarkan, apakah calon lokasi tersebut harus dibangun dari nol ataukah calon lokasi tersebut sudah memiliki sarana infrastruktur yang mencukupi dan tinggal dikembangkan saja sehingga dalam prosesnya nanti akan bisa menghemat biaya yang dibebankan pada negara sehingga lokasi pemindahan ibukota yang paling realistis adalah tetap di pulau Jawa dan salah satu calon lokasi pemindahan ibu kota negara yang dianggap layak adalah Kabupaten Jepara diwilayah propinsi Jawa tengah.&lt;br /&gt;Dengan luas wilayah mencapai 100.413,189ha yang terletak pada 110°9`48,02" sampai 110°58`37,40" Bujur Timur dan 5°43`20,67" sampai 6°47`25,83" Lintang Selatan memiliki topografi wilayah yang beragam antara 0 m sampai dengan 1.301 m diatas permukaan air laut lokasi ibukota negara  nantinya dapat menggunakan kawasan tanah negara dibagian utara/timur Jepara yang saat ini dikuasai Perhutani dengan ketinggian tanahnya diperkirakan lebih aman dari bahaya naiknya permukaan air laut dalam masa yang akan datang.  Jepara sendiri merupakan wilayah di pulau jawa yang letaknya paling utara sehingga relatif lebih dekat dengan pulau Kalimantan yang digadang sebagai lokasi ibu kota negara yang baru dibandingkan dengan daerah lain di pulau jawa sehingga “center of teritory” bisa terpenuhi. Selain itu dari studi NIRA(Italia) pada tahun 1983 Data erupsi terakhir Gunung Muria berlangsung anatara 80.000 – 40.000 tahun yang lalu, sedangkan menurut Studi Tapak dan Studi Kelayakan BATAN pada tahun 1992 erupsi terakhir terjadi sekitar ± 500.000 tahun yang lalu dengan jangkauan lava 20 km dari jalur pantai sehingga Jepara lebih aman dari kemungkinan adanya bencana gempa baik tektonik maupun vulkanik.&lt;br /&gt;Jepara memiliki pantai sepanjang 72km yang menghadap langsung ke laut jawa dengan kondisi pantai yang berpasir sampai yang berlumpur sehingga banyak memberikan pilihan untuk lokasi pembangunan pelahuhan besar nantinya didasarkan atas fakta bahwa sejak awal sejarah Indonesia, kota pelabuhan merupakan urat nadi dan sekaligus simpul-simpul kegiatan kebaharian dan sekaligus kegiatan ekonomi di Nusantara. Dapat dikatakan bahwa dari kota pelabuhan itulah pelayaran dan perdagangan serta kegiatan kebaharian lainnya dikendalikan dan dikembangkan. Bahkan peran sebuah kota pelabuhan tidak hanya terbatas pada sektor kebaharian, namun juga mencakup sektor-sektor yang lainnya seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan sebagainya. Hubungan antara kota pelabuhan dan daerah pedalaman merupakan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Mutlak bagi sebuah kota besar untuk memberikan sarana infrastuktur yang memadai, di Jepara juga telah memiliki ruas jalan yang memungkinkan untuk dikembangkan dengan kontur jalan yang stabil selain itu di Jepara juga ada pembangkit listrik tenaga uap(PLTU) Tanjung jati B dengan kapasitas pasokan listrik yang memadai untuk mendukung Jepara sebagai sebuah ibu kota negara.&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari segi kemampuan perkonomian daerah dalam menopang kehidupan masyarakatnya Jepara merupakan salah satu wilayah di Jawa tengah yang memiliki PDB cukup baik. Dengan produk andalan kerajinan furniture Jepara telah memposisikan dirinya sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang sudah go Internasional sehingga nama Jepara dengan produk furniturenya sudah mendunia dengan sentra produksi yang merata hampir diseluruh wilayah Jepara kecuali Karimunjawa. Dengan status Jepara yang sudah mendunia tentu akan sangat membantu bagi pemerintah Indonesia untuk menyampaikan pada dunia mengenai pemindahan ibukota negara. &lt;br /&gt;Dari hasil penelitian Dra. Sri Indrahti, M.Hum dari Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro Semarang menunjukkan bahwa secara ekologis Jepara memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan bahari terpadu. Jepara merupakan kabupaten kepulauan yang terbesar di Jawa Tengah. Secara sosial budaya kota Jepara juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kota pelabuhan yang maju di masa yang akan datang. Kota ini memiliki peninggalan sejarah dan arkeologi maritim yang cukup kaya sebagai warisan kejayaan masa lampau. Selain itu nilai-nilai dan tradisi kebaharian juga masih berkembang di kota Jepara hingga saat ini. &lt;br /&gt;Di bidang ekonomi, Jepara juga dikenal sebagai salah satu kota bisnis yang maju di Jawa karena pertumbuhan industri ukirnya. Selain sektor kebaharian seperti pelayaran, perikanan, dan wisata bahari, Jepara juga mampu mengembangkan sektor-sektor lain seperti pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Selain itu, secara politis pemerintah kabupaten Jepara memiliki  komitmen yang kuat untuk mengembangkan pelabuhan bukan hanya untuk kepentingan perikanan dan penumpang tetapi juga pelabuhan niaga yang dapat digunakan sebagai sarana ekspor dan impor. Pemerintah kabupaten Jepara memiliki visi untuk membangun Jepara sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Dalam hal ini potensi kebaharian Jepara sangat signifikan untuk mencapai kejayaan bahari di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Dari sudut demografinya tingkat kepadatan penduduk di wilayah Jepara juga masih sangat ideal dengan tingkat kepadatan 1.033jiwa per Km2 dengan tingkat pendidikan yang baik yang diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam pembangunan serta lebih terbuka pada informasi dan keterbukaan. &lt;br /&gt;Jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan ditanah jawa diujung sebelah utara pulau Jawa sudah ada sekelompok penduduk yang diyakini orang-orang itu berasal dari daerah Yunnan Selatan yang kala itu melakukan migrasi ke arah selatan. Jepara saat itu masih terpisah oleh selat Juwana. Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.&lt;br /&gt;Dalam bukunya “Suma Oriental” penulis Portugis bernama Tome Pires mengisahkan bahwa pada abad ke-XV (1470 M) Jepara sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.&lt;br /&gt;Hingga pada tanggal 12 Rabiul Awal atau tanggal 10 April 1549 Jepara dipimpin oleh Retno kencono bergelar Ratu Kalinyamat dengan Surya Sengkolo Trus Karya Tataning Bumi sebagai slogannya,  berkat kepemimpinan Ratu Kalinyamat dalam waktu singkat Jepara telah berkembang bukan saja sebagai Bandar terbesar di pesisir utara pulau Jawa, tetapi juga memiliki armada perang yang sangat kuat. Oleh penulis Portugis Diego De Conto, dalam bukunya, Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai “Rainha de Jepara senhora pederose e rica,” yakni Ratu Jepara, seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya. Jika ditilik dari sejarah Jepara yang panjang Jepara pada waktu dulu merupakan sebuah tempat yang sangat maju dan kuat serta sangat anti terhadap penjajah kolonialisme Portugis.&lt;br /&gt;Meskipun hal ini baru sekedar wacana namun dengan berbagai potensi dan letak geografis  serta sejarah panjang kabupaten Jepara sungguh sesuatu hal yang wajar jika Jepara menjadi lokasi pemindahan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dimasa yang akan datang, namun demikian hal ini tergantung dari kesiapan pemerintah daerah dalam mengembangkan dan menata serta menggali lebih jauh lagi potensi yang ada di Jepara untuk disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai acuan penilaian dalam penentuan Jepara sebagai calon lokasi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Sutand)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5725139628636585199?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5725139628636585199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/08/semenanjung-muria-jepara-sebagai-calon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5725139628636585199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5725139628636585199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/08/semenanjung-muria-jepara-sebagai-calon.html' title='Semenanjung muria Jepara sebagai calon lokasi  Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TGyl_CalSGI/AAAAAAAAAD8/N4z7WfwrI5E/s72-c/6-4-2009-pubseindonesia2.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-476307482099071872</id><published>2010-07-29T13:14:00.001+07:00</published><updated>2010-08-19T10:22:45.049+07:00</updated><title type='text'>Audiensi OISCA dengan Pemkab Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEccHAeseI/AAAAAAAAAD0/sjvSWQLYtUY/s1600/P10403531.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEccHAeseI/AAAAAAAAAD0/sjvSWQLYtUY/s320/P10403531.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499207889239060962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepara-OISCA Jepara. Pada tanggal 22 Juli 2010 tim OISCA Mangrove Program yang terdiri dari Mr. Yutaka Nakagaki (Country Manager OISCA Indonesia), Mrs. Ada Nakagaki (OISCA-TMMP Administrator), MP. Nur rahmat (Koordinator Mangrove nasional), Khumaedi (LPP Mangrove), Cahya Edy (Ketua HAOI Jateng), Bambang H.S(Koordinator wilayah Jepara), Suyadi (Staff OISCA Indonesia) dan Sutandiyatno (Ass.Koordinator wilayah Jepara) melakukan pertemuan dengan jajaran Pemkab Kabupaten Jepara dalam rangka audiensi pelaksanaan OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program yang telah dilakukan oleh OISCA Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu Koordinator Mangrove Nasional MP.Nur rahmat menyampaikan paparan mengenai program ini yang rencananya akan dilakukan selama lima tahun kedepan dengan rencana keluasan 750Ha untuk seluruh wilayah nasional dan 80Ha untuk wilayah Jepara, selain menyampaiakan paparannya beliau juga menyampaikan harapan dan terima kasih atas dukungan pemerintah kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang sama Koordinator wilayah kabupaten Jepara Bambang H.S berkesempatan menyampaiakan laporan singkat mengenai pelaksanaan program rehaabilitasi mangrove ini dimana dilapangan masih ditemui kendala-kendala yang perlu mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah terutama dalam penyusunan Perda yang mengatur pemanfaatan tanah timbul dan batas pantai yang diperuntukkan sebagai kawasan konservasi dan rehabilitasi mangrove seperti yang telah dijalankan di Kabupaten Pati, Demak, Pekalongan dan Indramayu yang juga merupakan lokasi OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program.&lt;br /&gt;Pemkab Jepara yang pada audiensi kali ini diwakili oleh Setda didampingi Kepala dinas atau perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Lingkungan Hidup serta dari Perekonomian Kabupaten Jepara menyampaiakan dukungan sepenuhnya terhadap program-program yang dijalankan OISCA di wilayah Jepara serta akan menindaklanjuti mengenai Perda kawasan mangrove dan sangat menyambut baik mengenai rencana kunjungan pelajar dari OISCA Academy Jepang yang rencananya akan melakukan kegiatannya di Jepara pada tahun depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-476307482099071872?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/476307482099071872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/audiensi-oisca-dengan-pemkab-jepara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/476307482099071872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/476307482099071872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/audiensi-oisca-dengan-pemkab-jepara.html' title='Audiensi OISCA dengan Pemkab Jepara'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEccHAeseI/AAAAAAAAAD0/sjvSWQLYtUY/s72-c/P10403531.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6237260991412608997</id><published>2010-07-29T13:12:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T13:13:39.016+07:00</updated><title type='text'>MonEv OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEcApAFVWI/AAAAAAAAADs/EEA08tuDHp8/s1600/P10402241.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEcApAFVWI/AAAAAAAAADs/EEA08tuDHp8/s320/P10402241.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499207417327867234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepara-OISCA Jepara. Program OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program tahap ke III untuk tahun pertama (2009-2010) diseluruh Indonesia sudah memasuki masa monitoring dan evaluasi begitu juga untuk wilayah rehabilitasi mangrove di kabupaten Jepara. &lt;br /&gt;Kegiatan monitoring dan evaluasi OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program di Jepara dilaksanakan pada 21 Juli 2010 yang dilaksanakan di lokasi penanaman Desa Clering, Kecamatan Donorojo bersama tim Monitoring dan evaluasi dari OISCA Indonesia yang diwakili langsung oleh Country manager Mr. Yutaka Nakagaki didampingi Koordinator Mangrove Nasional dan perwakilan dari LPP Mangrove sebagai lembaga independent yang diharapkan akan memberikan kajian dan persepsi yang lebih obyektif terhadap pelaksanaan program ini.&lt;br /&gt;Pelaksanaan monitoring dilakukan dengan berjalan kaki untuk melihat langsung kondisi tanaman dengan menyusuri area sepanjang sungai Tempel dan pesisir pantai Clering serta areal tambak sepanjang ±2.5Km dilanjutkan dengan melihat penanaman dilokasi kedua di desa Ujungwatu yang bersebelahan dengan desa Clering. Pelaksanaan monitoring dimulai jam 08.15 WIB sampai 11.56 WIB dilanjutkan dengan diskusi bersama masyarakat dan kelompok tani jam 12.10 WIB – 14.15 WIB serta dilanjutkan dengan makan siang bersama.&lt;br /&gt;Karena program ini merupakan kegiatan rehabilitasi dan restorasi kawasan mangrove yang dilakukan secara berkelanjutan selama lima tahun indikator penilaian dalam monitoring dan evaluasi ini mencakup semua aspek yang mempengaruhi tingkat keberhasilan program yang dijalankan bukan hanya berdasarkan pada tingkat kelulushidupan tanaman mangrove tapi juga terhadap respon dan peranserta masyarakat, komunikasi dan hubungan koordinator OISCA dengan masyarakat serta dukungan dari pemerintah setempat baik tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten sehingga diharapkan dengan dilakukannya monitoring dan evaluasi ini bisa didapatkan gambaran mengenai pelaksanaan program ini di masing-masing wilayah guna menentukan apakah program diwilayah tersebut bisa dilanjutkan serta berapa alokasi keluasan penanaman mangrove yang bisa dilaksanakan diwilayah tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6237260991412608997?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6237260991412608997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/monev-oisca-tokio-marine-nichido.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6237260991412608997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6237260991412608997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/monev-oisca-tokio-marine-nichido.html' title='MonEv OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program 2010'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEcApAFVWI/AAAAAAAAADs/EEA08tuDHp8/s72-c/P10402241.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5540497447888216077</id><published>2010-07-29T12:53:00.000+07:00</published><updated>2010-07-29T13:11:55.186+07:00</updated><title type='text'>Rapat Koordinasi Nasional OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEX9YD7l6I/AAAAAAAAADk/k1-S5MKV7NE/s1600/P10401121.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEX9YD7l6I/AAAAAAAAADk/k1-S5MKV7NE/s320/P10401121.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499202963194484642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sukabumi-OISCA Jepara. Rapat Koordinasi Nasional untuk koordinator kegiatan OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program kali ke dua yang diselenggarakan oleh OISCA Indonesia di OISCA Training centre Cikembar Sukabumi Bogor pada 14 – 15 Juli 2010 berlangsung santai dan menarik dengan suasana alami pegunungan yang sejuk.&lt;br /&gt;Rakornas yang dihadiri oleh koordinator kawasan rehabilitasi wilayah Madura (Pamekasan &amp; Sumenep), Pati, Jepara, Demak, Pekalongan dan Indramayu serta koordinator nasional wilayah Jatim, Jateng dan Jabar ini membahas mengenai pelaksanaan kegiatan dimasing-masing wilayah dan penyampaian laporan tahunan.&lt;br /&gt;Acara dibuka oleh koordinator nasional MP. Nur rahmat dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur OISCA Sukabumi Bapak Halid serta Country manager OISCA Indonesia Bapak Yutaka nakagaki. Dalam acara ini masing-masing koordinator juga diberikan kesempatan untuk mempresentasikan mengenai kegiatan OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program diwilayahnya dilanjutkan dengan sesi diskusi dan pengarahan dari Ibu Ada nakagaki selaku OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program Administrator untuk wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam Rakornas kali ini diharapkan bisa memberikan informasi terbaru mengenai pelaksanaan program termasuk juga mengenai hambatan – hambatan yang ditemui di lapangan, selain itu dalam acara ini juga diinformasikan bahwa pelaksanaan program rehabilitasi mangrove yang disponsori oleh program CSR dari Tokio Marine Nichido Insurance sebuah perusahaan asuransi dari Jepang yang sangat peduli dengan program lingkungan hidup ini berkomitmen untuk melaksanakan program rehabilitasi mangrove di seluruh dunia untuk 100 tahun kedepan.&lt;br /&gt;Country manager Bapak Yutaka nakagaki dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa OISCA International saat ini sudah terdaftar sebagai NGO dengan status baru, dimana untuk mendapatkan status tersebut sangat banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi termasuk dalam penyajian laporan kegiatan yang dilaksanakan. Bpk. Yutaka nakagaki juga menyampaikan bahwa pelaksanaan monitoring OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program selain di Indonesia dengan melibatkan LPP Mangrove juga dilakukan oleh pihak sponsor yang bekerjasa dengan tenaga ahli pemetaan mangrove dari Jepang sehingga diharapkan bisa diperoleh data yang akurat dan obyektif  dari keberhasilan program ini supaya bisa disajikan dalam lembar berita yang faktual dan memiliki akurasi yang baik serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5540497447888216077?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5540497447888216077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/rapat-koordinasi-nasional-oisca-tokio.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5540497447888216077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5540497447888216077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/rapat-koordinasi-nasional-oisca-tokio.html' title='Rapat Koordinasi Nasional OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program 2010'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TFEX9YD7l6I/AAAAAAAAADk/k1-S5MKV7NE/s72-c/P10401121.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-4080469861234354819</id><published>2010-07-09T09:00:00.000+07:00</published><updated>2010-07-09T09:04:38.430+07:00</updated><title type='text'>Pengembangan Kampung Teknologi di Jepara Perlu Ditingkatkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaDqrusyZI/AAAAAAAAACs/fOW7QvzHuPM/s1600/2009.10.292.jepara.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaDqrusyZI/AAAAAAAAACs/fOW7QvzHuPM/s320/2009.10.292.jepara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491721564941240722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ANTARA - Deputi Bidang Jaringan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi, Samsa Ardisasmita, mengatakan, pengembangan kampung teknologi di Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, perlu ditingkatkan agar lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami berharap, pengembangan kampung teknologi ini tidak hanya mengandalkan bantuan dari Pemerintah Pusat, tetapi diupayakan bantuan dari APBD. Syukur-syukur ada kerjasama dengan pihak swasta," ujarnya ketika mengunjungi kampung teknologi di Desa Suwawal Timur, di Jepara, Kamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, keberadaan kampung teknologi tidak hanya untuk mengembangkan teknologi pertanian dan pertenakan, tetapi dimaksudkan pula untuk mendorong para pemuda agar lebih peduli terhadap perkembangan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, kata dia, di kota itu berdiri Sekolah Menengah Kejuruan yang fokus kepada jurusan pertanian dan perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa diberdayakan di desa ini," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lanjut dia, pengembangan kampung teknologi itu juga harus memberdayakan masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf Peternakan Agro Techno Park (ATP) Kementerian Riset dan Teknologi, Syahruddin Said, mengatakan, konsep kampung teknologi di desa itu memang belum optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kendala yang dihadapi di antaranya persoalan dana dan sumber daya manusia yang belum mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengembangan perlu ditingkatkan lagi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi VII DPR, Daryatmo Mardiyanto, mengatakan, pendekatan terhadap masyarakat perlu ditingkatkan untuk menunjang pengembangan kampung teknologi sebagai keunggulan budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Teknologi di Desa Suwawal Timur seluas 110 hektare itu milik Pemkab Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf Ahli Menteri Negara Ristek Bidang Pangan dan Pertanian, Masrizal, menjelaskan, pengelolaan kampung teknologi dilakukan oleh Perusahaan Daerah Kabupaten Jepara dengan menjalin kerja sama dengan LIPI, BATAN, dan BPPT sejak 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk teknologi pakan sapi bekerjasama dengan BATAN, IB sexing dari LIPI, dan teknologi gertak birahi (lasser puncture) kambing dari BPPT," ujarrnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ATP, kata dia, tidak hanya sekadar model pertanian terpadu, tetapi dipadukan dengan industri pengolahan dan kerajinan (technopark), wisata alam, aneka permainan, dan kebun raya mini (ecopark).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan yang akan diperoleh masyarakat kawasan kampung teknologi, katanya, cukup banyak di antaranya masyarakat bisa menikmati teknologi pengembangan ayam baik petelur maupun itik, dan teknologi untuk tanaman pangan, serta ternak sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nantinya, kebutuhan gizi seimbang masyarakat akan tercukupi, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat," ujarnya. s &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=31202&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-4080469861234354819?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/4080469861234354819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/pengembangan-kampung-teknologi-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/4080469861234354819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/4080469861234354819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/pengembangan-kampung-teknologi-di.html' title='Pengembangan Kampung Teknologi di Jepara Perlu Ditingkatkan'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaDqrusyZI/AAAAAAAAACs/fOW7QvzHuPM/s72-c/2009.10.292.jepara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6346392009651576509</id><published>2010-07-08T15:38:00.000+07:00</published><updated>2010-07-08T15:41:30.517+07:00</updated><title type='text'>KOMITMEN INDONESIA DAN JEPANG SIAP TURUNKAN EMISI CO2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDWPJtkMQiI/AAAAAAAAACk/ZoWnTkV2p5g/s1600/P1020654.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDWPJtkMQiI/AAAAAAAAACk/ZoWnTkV2p5g/s320/P1020654.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491452717661176354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kesiapan Indonesia untuk menurunkan emisi CO2 sebesar 26% dari sektor kehutanan, energi dan limbah. Bahkan apabila ada dukungan teknologi dan keuangan internasional, target penurunan emisi diproyeksikan sampai 41%, hal ini disampaikan pada Pertemuan G-20 di Pittsburg baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Pemerintah Indonesia mengatasi dampak pemanasan global tersebut antara lain dengan; melakukan penanaman pada lahan kritis minimal 500.000 ha/tahun, merehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis, terutama pada 13 DAS kritis, menekan titik api pada lahan gambut sampai 20%/tahun, memberantas illegal logging dan illegal trading sampai tingkat minimal, menurunkan jatah tebangan Hutan Produksi hanya 9 juta m3/tahun, dan Meningkatkan Hutan Tanaman Industri, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, dan Hutan Rakyat, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Presiden SBY, Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama juga menyatakan siap menurunkan emisi CO2 dengan target 25% pada 2020 dari level 1990. Target ini jauh lebih besar dari yang ditargetkan pendahulunya PM Taro Aso (sebesar 15%). Gagasan yang dikenal sebagai Hatoyama Initiative ini menegaskan keinginan Jepang untuk menjadi lead dalam mengatasi dampak perubahan iklim melalui pengalokasian dana dan alih teknologi rendah emisi. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan mencetak pemimpin lingkungan di seluruh dunia (Global Environment Leaders/GEL) melalui penyediaan beasiswa bagi mahasiswa asal negara-negara berkembang termasuk Indonesia untuk studi S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Jepang. 14 orang mahasiswa Indonesia yang sedang mengikuti program GEL ini diharapkan kelak menjadi environmental leaders yang dapat berperan dalam menciptakan low carbon society. (#) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/5984&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6346392009651576509?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6346392009651576509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/komitmen-indonesia-dan-jepang-siap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6346392009651576509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6346392009651576509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/07/komitmen-indonesia-dan-jepang-siap.html' title='KOMITMEN INDONESIA DAN JEPANG SIAP TURUNKAN EMISI CO2'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDWPJtkMQiI/AAAAAAAAACk/ZoWnTkV2p5g/s72-c/P1020654.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-5662986566690448925</id><published>2010-06-28T10:13:00.000+07:00</published><updated>2010-07-09T09:35:35.791+07:00</updated><title type='text'>25.000 Mangrove ditanam di Clering, Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaKveLCbUI/AAAAAAAAAC8/ZRHjxJqsn_4/s1600/P1030144.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaKveLCbUI/AAAAAAAAAC8/ZRHjxJqsn_4/s320/P1030144.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491729343782743362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 23.000 Rhizophora mucronata dan 2.000 Rhizophora apiculata telah ditanam OISCA-TMMP untuk periode pertama tahun 2009, sengaja propagul Rhizophora mucronata dan Rhizopora apiculata dipilih untuk penanaman karena dua jenis tanaman mangrove ini sudah ada sebelumnnya di sekitar lokasi penanaman sehingga tingkat adaptasi dan kelulushidupannya diharapkan akan lebih baik. Penanaman manrove di Jepara merupakan rangkaian program OISCA Tokio Marine Mangrove Program lima tahunan untuk merehabilitasi tanaman mangrove di kawasan pantai pulau jawa, OISCA telah berkomitmen untuk melakukan rehabilitasi penanaman mangrove sejak tahun 90'an dengan melakukan rehabilitasi kawasan mangrove yang tersebar di Indonesia. Untuk Tahap III yang dimulai tahun 2009 OISCA berencana melakukan rehabilitasi dan penanaman mangrove seluas 750Ha yang tersebar di 7 wilayah pulau jawa yaitu di Indramayu, Pekalongan, Demak, Jepara, Pati, Pamekasan dan Sumenep. Untuk tahap III OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program dan merupakan periode pertama yang dilakukan di wilayah Jepara mendapatkan alokasi keluasan penanaman mangrove selama 5 tahun yaitu 80Ha. Pada tahap sebelumnya(II) OISCA-TMMP tahun 2004-2008 dilakukan penanaman di 6 wilayah, Desa Pusaka jaya Kabupaten Karawang 2.4Ha, Desa Lamaratung Kabupaten Indramayu 242.5Ha, Desa Mojo Kabupaten Pemalang 12.8Ha, Desa Bedono Kabupaten Demak 226.9Ha, Desa Kedung pandang &amp; Kupang Kabupaten Sidoarjo 222.4Ha, Desa Curah sawo &amp; Pesisir Kabupaten Probolinggo 61.8Ha dengan total lokasi yang dilakukan rehabilitasi dan penanaman tahap II seluas 768.8Ha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-5662986566690448925?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/5662986566690448925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/25000-mangrove-ditanam-di-clering.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5662986566690448925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/5662986566690448925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/25000-mangrove-ditanam-di-clering.html' title='25.000 Mangrove ditanam di Clering, Jepara'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TDaKveLCbUI/AAAAAAAAAC8/ZRHjxJqsn_4/s72-c/P1030144.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-8568959926985003945</id><published>2010-06-26T10:21:00.000+07:00</published><updated>2010-06-26T10:28:25.355+07:00</updated><title type='text'>Mangrove menyerap 75,4 juta ton CO2 per tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVzwfnnhsI/AAAAAAAAAA4/_fLSU2N9-Dk/s1600/P1020698.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVzwfnnhsI/AAAAAAAAAA4/_fLSU2N9-Dk/s320/P1020698.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486918997979399874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian tsunami 2004 wacana ekologi mulai menguat. Apalagi sekarang sejumlah kasus gelombang air pasang terjadi. Wacana ekologi makin kuat lagi ketika berkembangnya isu pemanasan global. Menguatnya wacana ekologi ini tidak lain karena laut memang telah memberikan pelajaran kepada kita, yang dampaknya terhadap sosial-ekonomi tidak kecil. Dengan pemanasan global, akan terjadi kenaikan permukaan air laut. Bayangkan saja, hasil penelitian Dasgupta dkk. (2007) menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut 1 meter akan berdampak terhadap 1,3 persen penduduk dunia dan merugikan senilai 1,3 persen produk domestik bruto (PDB) dunia, 1 persen wilayah kota, dan 0,4 persen lahan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kita menyadari pentingnya aspek ekologis dari ekosistem pesisir dan terumbu karang, ternyata sektor kelautan dan perikanan belum kuat posisinya dalam arus utama lingkungan. Buktinya, dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim di Bali lalu, isu kehutanan jauh melebihi kelautan. Padahal luas hutan hanya 1,31 juta kilometer persegi, sementara laut kita seluas 5,8 juta km persegi. Di Indonesia, terumbu karang mampu menyerap 73,5 juta ton C02 per tahun. Sementara itu, mangrove menyerap 75,4 juta ton CO2 per tahun, padang lamun menyerap 56 juta ton CO2 per tahun, dan laut lepas kita dapat menyerap 40,4 juta ton CO2 per tahun. Sehingga total serapan karbon dari wilayah laut dan pesisir sekitar 245,6 ton CO2 per tahun (BRKP DKP, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kini sudah menyadari betapa pentingnya ekosistem mangrove untuk menahan gelombang pasang ataupun tsunami. Juga pentingnya ekosistem terumbu karang dalam mencegah abrasi serta menjadi pilar peningkatan stok ikan dan suburnya fitoplankton. Fitoplankton dapat menyerap 40-50 miliar ton karbon per tahun, yang mirip tumbuhan yang mampu menyerap 52 miliar ton karbon per tahun. Namun, ternyata sektor kelautan dan perikanan belum mampu meyakinkan publik bahwa laut dapat menjadi penyelamat atas pemanasan global.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-8568959926985003945?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/8568959926985003945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/mangrove-menyerap-754-juta-ton-co2-per.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8568959926985003945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8568959926985003945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/mangrove-menyerap-754-juta-ton-co2-per.html' title='Mangrove menyerap 75,4 juta ton CO2 per tahun'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVzwfnnhsI/AAAAAAAAAA4/_fLSU2N9-Dk/s72-c/P1020698.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-8433028380207951272</id><published>2010-06-26T10:04:00.000+07:00</published><updated>2010-06-28T09:44:55.657+07:00</updated><title type='text'>Cagar alam gunung Clering menunggu diselamatkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgMoIr5StI/AAAAAAAAABI/UnHtcLXm6TM/s1600/g.Clering.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgMoIr5StI/AAAAAAAAABI/UnHtcLXm6TM/s320/g.Clering.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487650029616843474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;JEPARA-Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memandang bahwa kawasan cagar alam Clering di Jepara, perlu diselamatkan keberadaannya dari kondisi kritis yang rawan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, kawasan hutan Clering telah ditetapkan menjadi cagar alam dengan SK Menhut Nomor 755/Kpts II/1989 tanggal 16 Desember 1989 tentang Penetapan Kawasan Hutan Gunung Clering. Dan cara yang tepat adalah melakukan penghijauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rehabilitasi kawasan cagar alam ini dilaksanakan Departemen Kehutanan (Dephut) melalui BKSDA Provinsi Jawa Tengah. Cagar alam itu sendiri memiliki luasan 1.328,40 hektare. Himawan, dari BKSDA Jateng, menjelaskan bahwa di lokasi itu masih terjadi longsoran tanah. Kebakaran juga pernah terjadi di blok Suko. Sementara sungai dalam kawasan masih berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himawan mengatakan bahwa respons masyarakat Clering terhadap upaya menghijaukan kembali kawasan hutan itu, sangat positif. ''Kami masih mengharapkan peran serta dari masyarakat dalam upaya pelestarian ini,'' terangnya dalam paparannya di ruang Setda II Jepara, kemarin (16/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menanami kembali cagar alam Clering dengan pepohonan, BKSDA juga hendak memberikan penyuluhan konservasi sumber daya alam dan ekosistem, serta melakukan rehabilitasi secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian BKSDA tidak hanya pada cagar alam Clering, melainkan cagar alam Keling II dan III. Secara administratif, kawasan ini masuk dalam wilayah Desa Bumiharjo, Kecamatan Keling. Jenis pepohonan di kawasan ini bertipe hutan heterogen dataran rendah. Jenis flora yang ada di dalamnya adalah jati, kesambi, bendo, gondang, rau, dan welahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dishutbun Jepara Wahyudi menerangkan, program ini bukan hanya kawasan cagar alam saja yang bakal mendapatkan perhatian. Masyarakat sekitar kawasan terutama di luar cagar alam akan turut diberdayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Langkah pemberdayaan dilaksanakan melalui masing-masing SKPD terkait. Harapannya dengan pemberdayaan ini, bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar,'' terang Wahyudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, masyarakat Clering sangat mengharapkan kawasan tersebut dihijaukan. Pasalnya dengan kegiatan itu, bisa mengurangi munculnya bencana alam. Pemberdayaan masyarakat sendiri penting. ''Dengan mensejahterakan masyarakat maka hutan bisa lestari,'' jelasnya. (zis/mer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Jawapos, 17 Des 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-8433028380207951272?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/8433028380207951272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/cagar-alam-gunung-clering-menunggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8433028380207951272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8433028380207951272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/cagar-alam-gunung-clering-menunggu.html' title='Cagar alam gunung Clering menunggu diselamatkan'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgMoIr5StI/AAAAAAAAABI/UnHtcLXm6TM/s72-c/g.Clering.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-131266381829175844</id><published>2010-06-26T09:58:00.000+07:00</published><updated>2010-06-28T09:36:13.993+07:00</updated><title type='text'>Abrasi Pulau Panjang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgKj7biW3I/AAAAAAAAABA/_JAnS5qoyG8/s1600/P.Panjang.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgKj7biW3I/AAAAAAAAABA/_JAnS5qoyG8/s320/P.Panjang.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487647758315838322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Metrotvnews.com, Jepara: Kerusakan pantai utara (pantura) akibat abrasi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kian parah dan hingga kini mencapai 610.527 meter persegi daratan hilang. Bahkan, kini air laut Jawa telah menggerus Pulau Panjang, Jepara. Jika tak segera ditangani dalam beberapa tahun lagi, pulau ini akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan Media Indonesia di Jepara, Senin (7/6), kerusakan pantai akibat abrasi di Jepara tersebar pada lima kecamatan yakni Kedung 97.179 meter persegi, Jepara Kota 73.742 meter persegi, Mlonggo 55.175 meter persegi, Kembang 5.589 meter persegi, dan Keling 378.842 meter persegi. Ini merusakkan garis pantai sepanjang 15,3 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar Ilmu Pengairan dan Kelautan Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang Slamet Imam Wahyudi mengungkapkan kerusakan pantura Jepara cukup spesifik dibanding pantura lainnya. Selain diakibatkan oleh alam dan kerusakan hutan bakau yang ada, juga karena faktor manusia yaitu rusaknya terumbu karang akibat penjarahan sejak beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove mengakibatkan tak ada penangkal gelombang pasang, sehingga gelombang langsung menerjang pantai hingga mengakibatkan kelongsoran," kata Imam. Untuk mempoerbaiki kembali, menurut Imam, cukup sulit dan membutuhkan dana yang cukup besar. Soalnya, selain kembali menghijaukan hutan mangrove yang baru dapat efektif bekerja setelah berusia 25 tahun, juga dilakukan dengan pembangunan tanggul penahan gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Kelautan dan Pertikanan Jepara Acid Setiawan mengatakan, untuk mengatasi kerusakan yang lebih parah, Pemkab Jepara belum dapat membangun tanggul tembok penahan gelombang secara keseluruhan. Ini karena menyangkut masalah pendanaan yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk mengurangi, kini sedang dilakukan pembangunan 670 meter tembok penahan gelombang di sisi sebelah barat Pulau Panjang, karena di daerah itu tersebut abrasi terjadi paling tinggi. Upaya penanaman hutan mangrove juga terus dilakukan baik oleh pemkab, LSM Lingkungan, maupun warga pesisir. (MI/ICH)&lt;br /&gt;Sumber: www.metrotvnews.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-131266381829175844?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/131266381829175844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/abrasi-pulau-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/131266381829175844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/131266381829175844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/abrasi-pulau-panjang.html' title='Abrasi Pulau Panjang'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCgKj7biW3I/AAAAAAAAABA/_JAnS5qoyG8/s72-c/P.Panjang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-2514038250286896687</id><published>2010-06-26T09:38:00.000+07:00</published><updated>2010-06-26T10:11:03.042+07:00</updated><title type='text'>Desa Ujungwatu terancam abrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVrA_vi7cI/AAAAAAAAAAw/eUVuOIOLKEI/s1600/Ujungwatu.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVrA_vi7cI/AAAAAAAAAAw/eUVuOIOLKEI/s320/Ujungwatu.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486909385875844546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Desa Ujungwatu, merupakan bagian dari wilayah kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara, Jawa tengah. Lokasi ini juga merupakan calon tapak PLTN serta memiliki tempat wisata Benteng Portugis namun sungguh ironis sekali dibalik ketenaran namanya sebagai tapak PLTN warga desa Ujungwatu yang berada disepanjang pantai utara sebelah timur benteng Portugis setiap saat harus merasa was-was dengan hempasan ombak yang semakin hari semakin mendekati rumah mereka yang berjarak kurang dari 50 meter dari pantai. Masyarakat sekitar berharap adanya program dari pemerintah/LSM untuk membantu upaya pencegahan abrasi yang semakin parah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-2514038250286896687?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/2514038250286896687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/desa-ujungwatu-terabacam-abrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2514038250286896687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/2514038250286896687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/06/desa-ujungwatu-terabacam-abrasi.html' title='Desa Ujungwatu terancam abrasi'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TCVrA_vi7cI/AAAAAAAAAAw/eUVuOIOLKEI/s72-c/Ujungwatu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-8162413168909628535</id><published>2010-02-06T12:32:00.000+07:00</published><updated>2010-03-27T12:14:08.780+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>PELAKSANAAN KEGIATAN OISCA TOKIO MARINE MANGROVE PROGRAM DI WILAYAH KABUPATEN JEPARA&lt;br /&gt;Jepara, 22 – 24 November 2009&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/S3TTzZLwpwI/AAAAAAAAAAk/Ghk8dFvzAFw/s1600-h/Resize+of+P1000597.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/S3TTzZLwpwI/AAAAAAAAAAk/Ghk8dFvzAFw/s320/Resize+of+P1000597.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437203530030032642" /&gt;&lt;/a&gt;Pelaksanaan OISCA Tokio Marine Nichido Mangrove Program Tahap III untuk tahun I di Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara dilakukan OISCA bersama Kelompok tani dan PPL dari DKP selama 3 hari  mulai 22 – 24 November 2009.&lt;br /&gt;Pada hari pertama pelaksanaan didahului dengan penjelasan mengenai teknik penanaman dari Koordinator wilayah Jepara dan PPL dari DKP dilanjutkan pengukuran dan pemberian pancang di areal tanam yang berada di area bekas tambak yang sudah tidak terpakai hal ini dilakukan untuk memperoleh keluasan yang diharapkan dan agar supaya penanaman bisa lurus dan rapi yang nantinya untuk memudahkan dalam kegiatan pemeliaraan dan monitoring, selanjutnya adalah pemberian ajir yang fungsinya untuk menjaga dan menahan propagul yang sudah ditanam agar tidak bengkok serta kuat jika terkena gelombang pasang. Pada hari pertama ini penanaman dilakukan oleh 25 orang dari kelompok tani dipandu oleh OISCA dan PPL pada penanaman hari pertama ini diperoleh keluasan ±3 Ha.&lt;br /&gt;Pada penanaman hari kedua penanaman bisa dilakukan lebih pagi sehingga keluasan area tanam yang telah ditanami bisa lebih luas dibanding hari pertama ±4.5 Ha, area penanaman pada hari kedua adalah sebagian di area bekas tambak dan di bibir pantai yang dilakukan oleh 27 orang dari kelompok tani.&lt;br /&gt;Pada hari ketiga penanaman dilakukan dibibir pantai dan bantaran sungai seluas ±2.5 Ha yang dilakukan oleh 23 orang dari kelompok tani dilanjutkan dengan koordinasi dan evaluasi kegiatan penanaman yang pertama bersama OISCA, PPL dan kelompok tani.(OISCA-Jepara)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-8162413168909628535?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/8162413168909628535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/02/pelaksanaan-kegiatan-oisca-tokio-marine.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8162413168909628535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/8162413168909628535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2010/02/pelaksanaan-kegiatan-oisca-tokio-marine.html' title=''/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/S3TTzZLwpwI/AAAAAAAAAAk/Ghk8dFvzAFw/s72-c/Resize+of+P1000597.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7568942760115715343.post-6689212899667637616</id><published>2009-10-12T10:07:00.000+07:00</published><updated>2010-07-12T09:33:53.802+07:00</updated><title type='text'>OISCA Internasional</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:50px;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/StKfccWVHuI/AAAAAAAAAAc/gLAxURUXmFY/s1600-h/logo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 96px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/StKfccWVHuI/AAAAAAAAAAc/gLAxURUXmFY/s320/logo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391547014910910178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmag.net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmag.net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceType"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="PlaceName"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmag.net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmag.net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Hyperlink"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:915287134; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:409740490 -1545285606 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-36.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:314.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\mag.net\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" title="logo"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;OISCA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; Internasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;The &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;O&lt;/span&gt;rganization for &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;I&lt;/span&gt;ndustrial, &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;S&lt;/span&gt;piritual and &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;C&lt;/span&gt;ulture &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;A&lt;/span&gt;dvancement-International&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Apa itu OISCA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Organization for&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Industrial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Spiritual and&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Cultural&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;-&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Advancement&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;OISCA adalah sebuah organisasi internasional non profit yang concern terhadap program-program yang berwawasan lingkungan dan pengembangan masyarakat. OISCA di danai oleh lembaga donatur dari Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Sejarah OISCA Internasional,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;OISCA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;b style=""&gt;Internasional&lt;/b&gt; didirikan oleh Dr. Yonosuke Nakano pada tahun 1961&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;1960 &amp;amp; 70-an, Kegiatan dibidang Pertanian dengan moto &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;“ Food First “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;1980, Mulai melaksanakan negiatan Rehabilitasi lahan kritis dan pendidikan berwawasan lingkungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;1991, Program CFP ( Children Forest Program ) Sebagai salah satu kegiatan OISCA di bidang lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;MISI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Menciptakan masa depan masyarakat dunia yang damai dengan lingkungan yang baik dan dapat di wariskan kepada generasi yang akan dating.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;VISI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Membentuk insan – insan mandiri, dengan tekat dan semangat tinggi serta dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungannya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Profil OISCA &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;OISCA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; berdiri pada tahun 1979, bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri dan Sekretariat Negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3 Program Pokok :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Pelatihan Pertanian&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;OISCA Training Centre di Sukabumi, Karanganyar dan Kupang,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Peternakan ayam Lingnan, Argo Forestry, Budidaya tanaman Krisan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Lingkungan Hidup&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Children’s Forest Program, People’s Forest program, Tokio Marine Nichido Mangrove Program, &lt;st1:placename st="on"&gt;Yamaha&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Forest&lt;/st1:placetype&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Toyota&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Auto&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placename st="on"&gt;Body&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Forest&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Pengembangan Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Program Bantuan Sekolah, Program Perbaikan Fasilitas Air Masyarakat, Tanggap Darurat Gempa Jogja. Donatur : Embassy of &lt;st1:country-region st="on"&gt;Japan&lt;/st1:country-region&gt; in Indonesia, Mitsui-Sumitomo Banking Corporation, Sakaide Hakuho Lions Club in &lt;st1:place st="on"&gt;Shikoku&lt;/st1:place&gt;, Y.E.S 30 ( Youth Educational Supporters ), Konica-Minolta Labor Union.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OISCA Koordinator Jepara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Alamat : Jl. Brigjen Katamso No. 27 Panggang – Jepara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ph. 0291-595171, 081325270510&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Email : coordinator@oiscajepara.co.cc&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Koordinator : Bambang. HS &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7568942760115715343-6689212899667637616?l=www.oiscajepara.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.oiscajepara.co.cc/feeds/6689212899667637616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2009/10/oisca-internasional.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6689212899667637616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7568942760115715343/posts/default/6689212899667637616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.oiscajepara.co.cc/2009/10/oisca-internasional.html' title='OISCA Internasional'/><author><name>OISCA-JEPARA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02340619786344645356</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/TMUZsKkQkII/AAAAAAAAAEo/KSG2PZhvCn8/S220/images.jpeg4.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PIW-wXKjI1w/StKfccWVHuI/AAAAAAAAAAc/gLAxURUXmFY/s72-c/logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
